|
Di suatu hari 17 tahun yang lalu, aku hampir kehabisan akal untuk berbaikan dengan sang pacar. Tak ingat jelas, apa pasal kami bertengkar, tetapi hari itu sangat sulit untuk berkomunikasi. Datang ke rumahnya, gak mau menemui. Coba ditelpon, gak pernah diangkat, mau SMS …eeh belum jamannya kali. Ide kampungan itu tiba-tiba muncul di tengah frustasinya untuk mencari jalan damai. Kubeli sebuah kartu pos lengkap dengan prangko dalam kota. Aku tuliskan nama dan alamat sang pacar. Lalu kutuliskan pesan dibalik kartu pos tersebut: "Ayoo Ibu..., jangan marahan aja sama Ayah ya....". Di alamat pengirim kutuliskan sebuah nama Lizdriana Putri, sebuah nama yang merupakan gabungan namaku dan nama sang pacar..... Kenekatan & ide kampungan itu berhasil, beberapa hari setelah itu, walau do'i udah mau baikkan, tak ayal aku disemprotnya..."Apa-apaan sich....bikin malu aja ama seisi rumah" ujarnya sambil cemberut....(He he he...yang pentingkan komunikasi jalan lagi.....) 17 tahun berlalu sudah, setelah kami menikah dan mengarungi rumah tangga, melalui pasang surut kehidupan, riak gelombang perjalanan rumah tangga, dengan 2 anak laki-laki yang masih bersekolah di sekolah dasar, aku merasa masih "belum lengkap" keluarga ini tanpa kehadiran seorang putri, yang diharapkan bakal jadi penengah atau tumpuan kedua kakak-kakaknya ketika bersedih atau mendapat masalah....Ach, mungkin aku terlalu banyak berharap... Jika sahabatku yang mempunyai dua orang putri bercerita, ketika pulang dari kantor, maka disambut manja oleh 3 bidadarinya....maka ketika aku pulang kantor, jika bukan permainan bola yang berlangsung ditengah rumah, arena smack down yang terjadi tempat tidur. Sudah pastilah, sang Ibu hanya bisa mengurut dada, menyaksikan anak-anaknya berteriak sambil mengaduk-aduk seisi rumah. Ada cerita menarik, ketika kami pergi haji 2 tahun yang lalu. Seorang sahabat isteriku berpesan titip do'a kepada kami. "Apa doa-nya?" tanya isteriku. "Apa sajalah, pokoknya sama yang juga dimintakan" jawab sahabat isteri. Sahabat ini sudah mempunyai putra dan putri, sehingga terkadang kami iri kalau melihat "keluarga yang lengkap" itu. Harapan akan hadirnya ditengah-tengah kami seorang putri yang kelak akan mendatangkan kegembiraan di keluarga kami, selalu kami bawa dalam do'a-do'a kami. Hari-hari di tanah suci, ditempat-tempat yang makbul untuk berdo'a, diwaktu-waktu yang diijabah segala do'a, tak pernah kami lewatkan untuk meminta dititipi seorang anak perempuan yang cantik dan sholeha. Sepulang dari tanah suci, ternyata sang sahabat isteri telah mengandung dan lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik, ILA panggilannya. Kalau kami bertemu mereka, terkadang kami berseloroh, ILA ini adalah jawaban do'a kami, yang dicopy paste oleh sahabat kami. Melihat ILA yang cantik, membuat kami semakin mendambakan datangnya sang putri. Penantian sang putri, berujung kepada konsultasi dengan seorang dokter pakar "gender selection" dibilangan Kebayoran Baru. Dalam penjelasannya, dengan teknologi kedokteran yang canggih, kami dapat merencanakan, jenis kelamin anak kami kelak. Ada kebimbangan, apakah cara yang kami tempuh ini diridloi atau tidak oleh Allah SWT. Setelah pemeriksaan dilakukan kepada sang isteri, ternyata ada permasalahan hormon, sehingga indung telur tidak dapat dibuahi. Sang pakar yang merupakan professor dokter, yang sudah menjadi dokter ketika aku lahir, (itu adalah jawaban dia, ketika aku bertanya berapa usianya...), memberikan obat dan berpesan, setelah menstruasi hari pertama, disuruh datang kembali, dengan keputusan apakah mau melaksanakan program "gender selection" tersebut dan kami harus memilih apakah lewat bayi tabung atau inseminasi. Sebenarnya ada banyak teknik untuk berupaya memilih gender. Ada yang namanya Shettles Methode, dengan mempertimbangkan sperma pembawa gen perempuan lebih lama bertahan hidup daripada sperma gen laki, maka kalau ingin laki-laki, intercouse dilakukan paling lambat 12 jam sebelum ovulasi, dan jika ingin perempuan beberapa hari sebelum ovulasi. Teknik yang cukup sederhana, tetapi harus mengetahui kapan ovulasi terjadi, untuk itu harus dilakukan pengukuran suhu tubuh secara rutin. Metode lainnya adalah In vitro fertilization atau bayi tabung. Pembuahan dilakukan didalam cawan petri (kenapa gak disebut bayi cawan ya..?), kemudian embrio ditanamkan ke dalam rahim. Shettles methode mempunyai tingkat keberhasilan lebih rendah tetapi lebih murah tentunya dibanding in vitro fertilization. Metode lain yang cukup menjanjikan dan lebih murah ongkosnya adalah Intraurine Insemination (IUI). Dimulai dengan teknik pemisahan sprema laki dan perempuan lewat Erricson Albumin Methode, sperma yang sudah dipilih akan disuntikan ke dalam rahim sehingga diharapkan terjadi pembuahan. Kami sangat ragu untuk membuat keputusan, apakah ini merupakan jalan yang tepat, secara kami tidak mempunyai masalah kesuburan yang serius. Kami hanya ingin anak perempuan.....itu saja koq!. Hari-haripun berlalu, dan mestruasi yang ditunggu-tunggupun, tak kunjung datang. Kami mulai curiga, jangan-jangan.......????. Ternyata dugaan itu benar, sang isteri sudah positif hamil, setelah diperiksa test pack pada minggu berikutnya. Kamipun pasrah, ini memang kehendak Allah SWT, bahwa kami dikaruniai anak ketiga tanpa sempat berkonsultasi lebih lanjut tentang gender selection. Kami sepakat untuk tidak bertanya lagi tentang jenis kelamin, juga kepada dokter kandungan ketika kami memeriksakan kondisi kandungan, tetapi hati ini selalu H2C (Harap-Harap Cemas). Genap 40 minggu dilalui, hari sabtu, minggu yang lalu, kami pergi ke rumah sakit lengkap membawa kopor, setelah meminta restu dari orang tua. Dengan yakin sekali, kamipun memasuki rumah sakit dan langsung ke ruang bersalin di lantai 2. Setelah diputuskan untuk diinduksi dengan tablet, beberapa saat isteriku mulai merasakan mules yang luar biasa, tetapi setelah beberapa lama rasa mules sang isteri pun akhirnya hilang, dan "pembukaan" masih 1-2. Proses induksi dilakukan yang kedua, hasilnya sama. Dokter menyarankan untuk meneruskan proses induksi yang ketiga...Satu kali proses induksi saja memakan waktu 6 jam dam selama itu mules-mules berlangsung kurang lebih 5 menit sekali. Aku gak tega melihat isteriku mules-mules lagi. Konsultasi (lebih tepatnya negosiasi) berakhir dengan keputusan membawa kembali isteriku pulang ke rumah. Setelah menyelesaikan biaya administrasi dan tanda tangan pernyataan bertanggung jawab atas keputusan tersebut, maka pulanglah kami ke rumah. Kamipun disarankan menunggu lagi satu minggu ke depan dan dipesankan untuk lebih banyak dibawa jalan, padahal hampir tiap malam aku harus mengolesi counterpain ke betis isteriku yang mulai terlihat bengkak. Rasa khawatir mulai menyelimuti kami, apakah si bayi masih bisa selamat bertahan dalam kandungan. Dua hari sekali kami pergi ke dokter kandungan, memeriksakan kondisi jantung si bayi dan kesehatan ibunya. Sabtu, 1 Desember 2007 pukul 07.30, akhirnya penantian kamipun berakhir....lewat operasi cesar, sang putri lahir ke dunia, memecah heningnya keluarga kami dengan lengking tangisan soprano-nya.......Alhamdulillahi rabbil alamin,....Allah SWT sangat sayang kepada kami....tak terpikir bagaimana kami membalasnya.. Subhanallah..Allahu Akbar....
|
| Aa December 6, 2007 03:44 PM PST Test | ||
| Leave a Comment: |