|
Siang itu, kami berdua (saya & Adi) seperti biasanya pergi ke Mesjid Nabawi untuk menunaikan shalat Zhuhur. Kami sengaja mempercepat jadwal makan siang dengan berburu Sop Kikil di rumah makan Indonesia, karena ada jadwal "piket" di kamar hotel, sehingga baru boleh pulang selepas maghrib. Setelah selesai shalat, seorang jamaah berperawakan sedang, hidung macung, dengan kumis dan jambang tipis, memakai baju gamis putih kekuning-kuningan (broken white), datang mendekati kami. Sepertinya berasal dari India atau Pakistan, (kami tak pandai membedakan saudara dari India atau Pakistan). "Assalamu 'alaikum, brother....how are you?". Ucapan salam dijawab dengan lengkap oleh temanku, Adi , dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Sorry to disturb your time. As we are brother, I need your help. I don't have any money for eat. My country, recently, has been struck by earthquake…..and so…and so". Sangat pelan, sopan dan lancar dalam membawakan cerita tantang dirinya yang sedang dalam kesulitan. Dalam kondisi normal, sebagai tamu Allah, yang sedang melaksanakan ibadah Haji, sudah barang tentu kami akan tersentuh dan dapat dipastikan, akan memberikan sedekah untuk meringankan bebannya. Tetapi, tidak demikian kala itu, buat temanku yang kritis terhadap cerita tadi. Ia berusaha mengajak ngobrol lebih jauh tentang daerah asal jamaah yang dilanda gempa, dimana keluarganya sekarang berada, bagaimana rencana jamaah ini selanjutnya. Adi, temanku, berusaha untuk mengajak jamaah ini, untuk menemui Imam Mesjid atau perwakilan kedutaan jamaah itu berasal, atau kantor perwakilan urusan haji Saudi, untuk meminta bantuan atau jalan keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi. Kontan, jamaah ini menolak, dan bilang: "It's OK, if you cannot give money, wa alaikum salam" ujarnya sambil berlalu. Kami memang agak curiga dengan penampilan dan gaya bicaranya yang seolah-olah fasih terstruktur keluar dari mulut seorang yang sedang dalam musibah. "Sudahlah, biar aja…" ujarku mengajak sang teman, yang masih penasaran memperhatikan gerak gerik jamaah tadi. Sang Jamaah tadi, terlihat seperti mencari jamaah lain untuk bercerita lagi. Temanku ini mengajak aku untuk mendekati dan mendengarkan apalagi yang akan diceritakannya. Aku berusaha menenangkan dia, sambil berujar : "Sudahlah, mungkin itu hanya ujian bagi kita, agar kita tetap bisa menolak secara baik. Ingat lho, berbantah-bantahan itu juga bisa merusak ibadah haji kita ". Akhirnya, kamipun pergi menjauh, mencari tempat untuk duduk-duduk sambil tilawah Al-Qur'an. Sahabatku ini sempat berujar : "Dasar India, dimana-mana selalu saja mau menipu". Kami sempat tiduran didalam mesjid, sebelum akhirnya memutuskan keluar untu sekedar berjalan-jalan menunggu saatnya waktu ashar . Tiba-tiba temanku menyadari bahwa handphone Samsung-nya hilang, mungki terjatuh dari saku celananya. Aku pun mengeluarkan handphoneku dan berusaha menelepon nomor temanku. Awalnya tidak ada jawaban, sepertinya handphone tidak aktif. Setelah beberapa kali mencoba, tiba-tiba ada yang menjawab dari nomor tersebut. "Hallo, assalamu alaikum, who is this?" tanyaku. "Aaaah, I'm Mr. Bashiir, where are you?". Akhirnya, kami sepakat janjian untuk bertemu di TAIBA center. Setelah beberapa saat, kamipun bertemu. Sahabatku langsung memeluk Bashiir dengan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami tahu bahwa dia adalah seorang pengusaha asal India yang bermukim di Pakistan. Penampilannya cukup keren, terpelajar dan sangat santun, dia datang bersama dua temannya (terlihat seperti pegawainya, karena mereka membawakan barang belanjaannya Bashiir), dan kamipun bertukar cerita dan alamat. Kami sempat berfoto bareng bertiga dengan background mesjid Nabawi. Ketika kami pulang, tak henti-hentinya sahabatku beristigfar, ternyata Su'udzon kami tentang etnis India, dijawab kontan oleh Allah SWT, dengan mempertemukan kami kepada saudara kami yang mempunyai keluhuran budi, kejujuran hati serta ketinggian intelektual, yang sangat jauh dari "cercaan" yang sudah dilontarkan. Hari ini, sebuah pelajaran telah didapat lewat teguran yang sangat halus, bahwa kesombongan hati tidak seharusnya terbawa kesini….. By rKyu
|
| Leave a Comment: |