<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31









 
s'associer a mes amis Mas Oyi; Hadi tea
Terima Kasih sudah mampir yaa
Locations of visitors to this page

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, November 05, 2009
Start over again…….

Setelah melihat kembali coretan-coretan hasil penumpahan kata2 hati, terasa ada yang janggal. Tulisan yg sarat dengan pikiran2 bersih, kata-kata bijak, seolah mencerminkan kebeningan hati yang menulis, which is, masih jauh dari kenyataan. Kalo mengingat apa yg sudah dan masih dikerjakan, rasanya malu membaca tulisan2 yang terasa menggurui, kata-kata bijak yang menyejukan atau nasihat-nasihat indah seolah diri sendiri sudah dalam posisi layak menyantuni dan memberi tauladan kepada insan yang lain. Aku merasa MUAK terhadap itu semua, samasekali TIDAK JUJUR, layaknya KEBOHONGAN PUBLIK yang merajalela mengalahkan SAMPAH di sekitar kita semua. Lantas bagaimana?? Ketika hati masih gundah, pikiran terperangah goyah, gejolak rasa di dada tak reda, akhirnya kuputuskan untuk berpuasa pena, menahan diri untuk tak menulisnya. Memang topeng ini tak bisa bicara banyak, karena terhalang tatakrama serta adab yang menahan kepantasan bersandiwara, mengatur irama rasa…..akhirnya tetap saja BOHONG jua…. Kuberjanji untuk lebih terbuka, lebih jujur, lebih apa adanya, walau akan ada yang merasa terluka dan terhina…..biarlah !! rKyu

Posted at 7:15:47 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Friday, February 27, 2009
Living as Forty

It’s not easy if you don’t realize it, it’s not difficult if you know how to deal with.
Berawal dari obrolan wall-to-wall di facebok, akhirnya satu persatu teman SMA dan SMP tersambung kembali. Obrolan demi obrolanpun bermuara dengan ajakan mengadakan reuni akbar, setelah lebih dari 20 tahun tidak bertemu. . Salah satu teman mengusulkan reuni kali ini bertemakan : Life begins at forty, secara memang umur kami rata-rata baru memasuki periode forty. Terkadang sebagai bercandaan, seorang teman bercerita bahwa banyak isteri2 yang khawatir ketika para suami berumur 40-an, karena banyak diincar para omnivora alias wanita penggemar om-om. Ada juga yang mengkiyaskan, umur 40 seperti usia Nabi Muhammad ketika diangkat sebagai rasul, sehingga dianggap sebagai sebuah periode usia kematangan seseorang. Banyak pula yang mencapai kesuksesan hidup pada fase usia tersebut, sehingga mampu mewujudkan cita-cita hidupnya, seperti mencapai puncak karir, mempunyai perusahaan, memperoleh capital atau property, membentuk keluarga yang bahagia atau menjadi tokoh panutan masyarakat dsb. Tetapi, banyak pula yang mendapati “kegagalan”; baik dalam memperjuangkan karirnya, kehilangan harta yang dipunyai atau gagal dalam mempertahankan keutuhan keluarga. Seorang teman, di usia 40, dia bisa mendapatkan posisi yang cukup berpengaruh di sebuah perusahaan asing tempatnya bekerja. Rumah, mobil, serta hobynya yang mahal pun tersalurkan, sehingga terlihat lengkaplah sudah, ukuran kesuksesan yang diraihnya. Setahun berselang, affair dengan seorang mahasiswi kerja praktek, berujung dengan keputusan memulangkan sang isteri beserta anak-anak tercinta, ke rumah mertuanya, yang berada nun jauh diluar kota. Affairpun berujung ke pelaminan, walau tidak banyak yang tahu. Cerita tidak berhenti sampai disitu, entah kenapa, karirpun mulai goyah, dan akhirnya, dia harus hengkang tersingkir dari tempatnya bekerja, karena kasus manipulasi yang dilakukannya. Selanjutnya, dia bak ditelan gelombang tsunami, hilang dan sudah lama aku tak mendengar kabar darinya. Cerita lain, sahabat yang menyatakan baru “berhijrah” dan mendalami agama secara tekun, sampai-sampai memanggil guru ngaji privat seminggu sekali di rumahnya. Di umur 40, dia mampu mewujudkan nazarnya untuk menunaikan ibadah haji bersama isterinya dari pernikahan yang kedua, yang baru dinikahinya 3 tahun yang lalu. Dia tampak bahagia, walaupun materi yang didapatnya tidak sebanyak dahulu, ketika dia aktif bermain saham serta berbagai investasi keuangan. “ Akhirnya, aku meninggalkan dunia ribawi dan mendapatkan uang dari usaha yang halal” ujarnya ketika bercerita tentang bisnisnya yang lalu. 2 tahun berselang, aku menemukannya telah bercerai dengan isterinya, karena alasan ekonomi. Perselisihan tentang keuangan akibat usahanya yang tidak sepesat dulu, berujung dengan keputusan berpisah, serta meninggalkan perseteruan harta yang tidak kunjung selesai. Beruntung mereka tidak mempunyai anak, yang akan hanya menjadi korban akibat keegoisan mereka. Ada pula teman yang mencapai karir yang cukup prestisius, yaitu sebagai direktur (termuda) di BUMN ternama, ketika dia baru mencapai usia 40. Semua teman memujinya dan bangga akan kesuksesan yang diraihnya. Ada lagi, teman yang terkena PHK, sehari setelah dia merayakan ulang tahunnya yang ke 40. Selama 2 tahun, dia praktis menganggur, seolah putus asa setelah mencari pekerjaan kemana-mana. Tetapi selama 2 tahun itu, dia banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya tercinta, dimana hal tersebut sangat sulit dilakukan ketika dia masih bekerja dulu. Mengantar anak ke sekolah, menemani belajar, menolong membuatkan prakarya dsb. Lagi-lagi dia beruntung karena sang isteri masih mempunyai pekerjaan, walau hanya sebagai staff di sebuah perusahaan lokal. Akhirnya sekarang, temanku ini sudah mendapatkan pekerjaan kembali, setelah berulang-ulang mencoba melamar ke berbagai perusahaan. Cerita teman yang lain, menjelang usianya ke 40, bak disambar gledek di siang bolong, ketika mendengar kabar, isterinya divonis mengidap kanker stadium 4. Segala upaya dilakukan, berobat ke dokter, mengkonsumsi obat-obatan herbal, berdo’a serta bermunajat di waktu-waktu yang diijabah. Alhasil, sekarang setelah 2 tahun berlalu, isterinya masih sehat, walau tetap rutin berobat. Entah kebetulan atau tidak, cerita-cerita tadi terjadi ketika usianya menjelang 40-an, living as forty memang bukan sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. Kadang diperlukan kesabaran untuk “melihat & mendengar” serta belajar dari pengalaman hidup orang lain. Terkadang ego diri yang melambung tinggi, yang merupakan buah ekses dari rasa percaya diri berlebih serta pengakuan orang-orang sekitar atas pencapaian prestasi, akhirnya menjadikan kita seperti orang yang asing dimata orang – orang di dekat kita. Being Forty is like a second teenager syndrome. Pujian atas prestasi yang diraih, menjadikan lupa daratan (padahal segala puji hanya milik Allah) dan kadang berulah salting yang kampungan seperti layaknya anak ABG baru pakai celana panjang. Being Forty is like being reborn. Rambut yang mulai beruban, kerutan dahi terlihat samar, gaya bicara mulai memancarkan wibawa, jikalau diam pun, terkadang membuahkan pesona. Seorang sahabat menasihatiku: “Hati-hati kalau memberi atensi lebih kepada lawan jenis, dalam hubungan teman kerja apalagi junior ataupun terhadap murid”. Empaty yang salah tempat akan membuat persepsi salah arti dan membuat harapan semu. Apalagi secara tidak langsung, mereka mengidolakannya. Malah, para isteripun harus pandai-pandai bercerita tentang kebaikan-kebaikan suami. Dalam salah satu tips agar menjadi pasangan suami-isteri bahagia, buku karangan ………; isteri dilarang untuk memamerkan kebaikan ataupun rasa cinta suami kepada wanita lainnya. Ini dikarenakan akan kekhawatiran timbulnya rasa iri terhadap yang bercerita dan rasa sesal terhadap suami sendiri jikalau hal tersebut tidak didapatkan dari suaminya. Being Forty is sunatullah, it’s just period of time that anybody has to pass through. Bagaimana agar dapat dilalui dengan selamat, maka banyaklah belajar dari pengalaman yang lain, bersabarlah atas segala yang didapat, semakin mendekatlah kepada kebaikan serta kesholehan serta syukurilah atas segala nikmat yang didapat…..
21 February 2009 , Alhamdulillah, I’m 41 now!!! -..-

Posted at 4:38:39 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Wednesday, July 02, 2008
”Murah tidak dijual, Mahal tidak terbeli…”

Integritas, kita sering mendengar dan menggunakan kata ini dalam berdiskusi, tetapi mari kita bahas lebih lanjut, apa sebenarnya arti Integritas dalam konteks kerja itu?

Dalam kamus kompetensi, Integritas kerja adalah bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan dan kode etik perusahaan. Memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dan etika tersebut, dan bertindak secara konsisten walaupun akan sulit untuk melakukannya.

Dalam bahasa mudah, integritas dikaitkan kepada perilaku Kejujuran, Transparansi ataupun Keterbukaan terhadap atasan, kolega serta bawahan dalam melakukan pengambilan keputusan dalam bekerja, sesuai dengan prosedur, kaidah kerja serta etika yang berlaku.  

Contoh kecil adalah melakukan absensi setiap pagi karena prosedur kerja meminta kita sebagai karyawan melakukan aktifitas tersebut. Contoh lain adalah melakukan kegiatan pekerjaan sesuai dengan arahan serta prosedur yang berlaku, seperti bersikap tidak memihak atau netral terhadap suatu tender pengadaan atau proyek, pemeriksaan kendaraan sebelum berangkat ke pelanggan, memeriksa barang-barang yang masuk atau keluar sesuai dengan surat order, memakai fasilitas kerja seperti komputer, kendaraan atau yang lain hanya untuk kepentingan pekerjaan, melaporkan kegiatan kerja sesuai dengan data dan fakta serta tepat waktu, menghargai pendapat sesama, saling menghormati dan mentaati norma dan etika kerja dan lain sebagainya.

Integritas kerja wajib hukumnya dimiliki oleh semua karyawan, dari level paling bawah sampai paling atas, karena dengan memiliki integritas kerja, kepatuhan terhadap sistem kerja akan berjalan secara konsisten dan menghasilkan efektifitas kerja yang baik.

Integritas kerja atau dengan bahasa sederhana dikaitkan kepada kejujuran diri dalam bekerja, merupakan hal yang mudah serta murah, karena tidak memerlukan biaya ataupun energi untuk mengimplementasikannya, sehingga tidak untuk dijual. Cukup dengan keikhlasan hati serta kecintaan dan kebanggaan terhadap apa yang dikerjakan, dampak yang akan timbul adalah sikap positif dalam diri, dan tahan terhadap tekanan kerja yang dapat menimbulkan stress.  

Tetapi Integritas kerja juga merupakan hal yang Mahal, karena perusahaan mutlak memerlukan nilai-nilai kejujuran dalam menjalankan sistem kerja, tapi tidaklah mudah serta  memerlukan biaya yang tinggi, jika harus melakukan sistem kontrol yang ketat dalam hal memonitor “kejujuran” para karyawannya. Dapat dibayangkan, jika manajemen tidak mempercayai integritas kerja seorang operator atau security yang bekerja shift malam atau driver yang bertugas mengirim produk ke tempat yang jauh, atau pekerja proyek yang bertugas di remote area, sehingga perlu memasang perangkat monitor 24 jam untuk memantau pekerjaannya, misalkan.

Integritas kerja juga sulit untuk diajarkan lewat pelatihan formal, karena hal ini berhubungan dengan behavior (perilaku) seseorang yang mungkin dapat berubah-ubah tergantung dari nilai-nilai yang dianutnya saat ini.  

Hal yang paling mudah untuk menularkan integritas kerja adalah dengan memberi contoh kepada yang lain. Dengan prinsip 3 S, yaitu dimulai dengan Sedikit dan dari diri Sendiri serta dimulai dari Sekarang. Mudah-mudahan kita akan terbiasa melakukannya.

Integritas kerja akan menumbuhkan saling percaya (Trust) dari pihak karyawan terhadap atasan serta sebaliknya dari pihak manajemen maupun pemegang saham, yang nota bene adalah owner perusahaan.

Trust atau kepercayaan inilah, yang akan menjamin kelangsungan kerja serta pengembangan perusahaan, yang tentunya akan berdampak simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan antara karyawan & manajemen dengan pemilik modal.

 

Integritas, mudah dibicarakan, sulit dilaksanakan, mudah diangankan, sulit dibuktikan.

Integritas, murah tak ada yang jual, mahal tak terbeli.

by RKYU

Posted at 6:27:45 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Monday, January 14, 2008
Sempurna…hanyalah milik Allah SWT.

Kau begitu sempurna

Dimataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan selalu memujamu

Di setiap langkahku

Ku kan selalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu..

 

Lagu melow, tapi tak cengeng…..begitulah komentar orang tentang hits-nya Andra and the backbone, yang diputar berulang-ulang di radio, TV, ring backtone, nada sambung, nada dering, tape di angkot, nyanyian di pos ronda, pengamen di bis kota, nyanyian di kamar mandi atau celotehan anak-anak balita.

Lagu yang menceritakan pujaan seorang laki-laki yang kasmaran berat tentang "kesempurnaan" sang kekasihnya untuk dicintai, yang sampai-sampai tak bisa hidup tanpa cintanya. Lyric yang super melankolis ini, ternyata tidak hanya digandrungi para laki-laki, yang merasa terwakili dalam mengukapkan perasaannya, juga para wanita yang memimpikan mendapat pujaan seperti itu. Lyric yang indah dengan intro dentingan gitar acoustic, membuat alunan merdu disetiap ketukan nada , terasa pas dengan runutan lyricnya. Walaupun, kalau kita membandingkan dengan lagu Homesick dari King of The Convenience, memang benar kata sahabat di blog sitenya, rasanya ada kesamaan pada nada pembukanya. (Coba aja klik ke judul lagu diatas)

Hopefully, it was coincident, kalo gak....sayang banget kesempurnaannya ternoda.

Besarnya perasan cinta memang dapat membuat buta akal dan pikiran, terkadang seperti gila. Ingat cerita Laila dan si Majnun, yang akhirnya merana dan mati dalam "ke-majnunan" cintanya, yang tidak pernah terbalas. Atau ingat cerita si semut yang mati kekenyangan di gudang gula, menemui ajalnya dalam menikmati "kesempurnaan" pelampiasan nafsu laparnya.

Teringat pula kebiasaan satu sahabat di SMA dulu, yang sering mengucapkan kata "Sempuuuurnaaaa…." sambil mengeluarkan asap rokok yang dihirupnya, sebagai ekspresi kesempurnaan nikmat merokok….padahal dia sedang meracuni paru-parunya dengan sejumlah zat karsinogen yang dapat memicu penyakit kanker. (Tak jelas memang, jangan-jangan mau bikin iklan rokok Sampurna kali ya??….)

Kesempurnaan hidup juga aku rasakan, ketika menyadari bahwa sekarang aku mendapatkan amanah seorang anak cantik (Ini sebutan anak perempuan, oleh Bu Nunuk di TK anak-ku). Anak cantik yang kunanti-nanti, selalu kubawa dalam do'a, kuharap dalam angan, selama 13 tahun hidup berumah tangga, akhirnya melengkapi hidupku dengan 2 kakak laki-laki-nya. (Di rumah aku sebut, Kakak Besar, karena badannya besar; Kakak kecil, karena memang kurus dan kecil, sedangkan si adik dipanggil Adik Bulat , karena mukanya yang bundar). Kadang kekenesan iklan obat batuk dengan anak kecil yang berkata : "Mah, suaraku serak seperti kodok….", membuat rinduku menjadi-jadi akan hadirnya si anak cantik. Alhamdulillah ya Allah.

Sempurna memang rasanya hidup ini, ketika angan, impian, cita-cita teraih sudah….

Sempurna rasanya ketika dapat melampiaskan dorongan hawa nafsu sepenuh jiwa.

Tetapi itulah manusia, yang cepat sekali lupa dari mana nikmat-nikmatnya itu. dia peroleh, tak menyadari bahwa ujian kesenangan hati tengah diberikan.

Rasa gembira dan cinta yang mengebu, seolah kesempurnaan hidup sudah teraih semua jika dapat melampiaskan rasa suka-cita tersebut. Padahal, hakikatnya, kita sedang digelincirkan oleh nikmat kesenangan dunia, kecintaan terhadap sesuatu yang fana, sehingga melupakan objective utama kita dalam hidup di dunia, yaitu beribadah untuk meraih ridlho Allah SWT agar kelak selamat di akhirat.

Mudah-mudahan perasaan cinta, perasaan nikmat yang kita peroleh, senantiasa disandarkan semata-mata karena karunia-Nya dan kita selalu terhindar dari perasaan cinta yang berlebihan, yang dapat merusak akidah kita, karena munculnya syirik di dalam hati, yang tidak kita sadari....

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT dan hanya datang dari-Nya.....

 

Cibitung, 5 Muharram 1429.

by rkyu

Posted at 11:20:35 am by Adr
Comment (1)  

Tuesday, December 04, 2007
Menanti si Buah Hati.

 

Di suatu hari 17 tahun yang lalu, aku hampir kehabisan akal untuk berbaikan dengan sang pacar. Tak ingat jelas, apa pasal kami bertengkar, tetapi hari itu sangat sulit untuk berkomunikasi. Datang ke rumahnya, gak mau menemui. Coba ditelpon, gak pernah diangkat, mau SMS …eeh belum jamannya kali.

Ide kampungan itu tiba-tiba muncul di tengah frustasinya untuk mencari jalan damai.

Kubeli sebuah kartu pos lengkap dengan prangko dalam kota. Aku tuliskan nama dan alamat  sang pacar. Lalu kutuliskan pesan dibalik kartu pos tersebut: "Ayoo Ibu..., jangan marahan aja sama Ayah ya....". Di alamat pengirim kutuliskan sebuah nama Lizdriana Putri, sebuah nama yang merupakan gabungan namaku dan nama sang pacar.....

Kenekatan & ide kampungan itu berhasil, beberapa hari setelah itu, walau do'i udah mau baikkan, tak ayal aku disemprotnya..."Apa-apaan sich....bikin malu aja ama seisi rumah" ujarnya sambil cemberut....(He he he...yang pentingkan komunikasi jalan lagi.....)

17 tahun berlalu sudah, setelah kami menikah dan mengarungi rumah tangga, melalui pasang surut kehidupan, riak gelombang perjalanan rumah tangga, dengan 2 anak laki-laki yang masih bersekolah di sekolah dasar, aku merasa masih "belum lengkap" keluarga ini tanpa kehadiran seorang putri, yang diharapkan bakal jadi penengah atau tumpuan kedua kakak-kakaknya ketika bersedih atau mendapat masalah....Ach, mungkin aku terlalu banyak berharap...

Jika sahabatku yang mempunyai dua orang putri bercerita, ketika pulang dari kantor, maka disambut manja oleh 3 bidadarinya....maka ketika aku pulang kantor, jika bukan permainan bola yang berlangsung ditengah rumah, arena smack down yang terjadi tempat tidur. Sudah pastilah, sang Ibu hanya bisa mengurut dada, menyaksikan anak-anaknya berteriak sambil mengaduk-aduk seisi rumah.

Ada cerita menarik, ketika kami pergi haji 2 tahun yang lalu. Seorang sahabat isteriku berpesan titip do'a kepada kami. "Apa doa-nya?" tanya isteriku. "Apa sajalah, pokoknya sama yang juga dimintakan" jawab sahabat isteri. Sahabat ini sudah mempunyai putra dan putri, sehingga terkadang kami iri kalau melihat "keluarga yang lengkap" itu.

Harapan akan hadirnya ditengah-tengah kami seorang putri yang kelak akan mendatangkan kegembiraan di keluarga kami, selalu kami bawa dalam do'a-do'a kami. Hari-hari di tanah suci, ditempat-tempat yang makbul untuk berdo'a, diwaktu-waktu yang diijabah segala do'a, tak pernah kami lewatkan untuk meminta dititipi seorang anak perempuan yang cantik dan sholeha.

Sepulang dari tanah suci, ternyata sang sahabat isteri telah mengandung dan lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik, ILA panggilannya. Kalau kami bertemu mereka, terkadang kami berseloroh, ILA ini adalah jawaban do'a kami, yang dicopy paste oleh sahabat kami. Melihat ILA yang cantik, membuat kami semakin mendambakan datangnya sang putri. Penantian sang putri, berujung kepada konsultasi dengan seorang dokter pakar "gender selection" dibilangan Kebayoran Baru. Dalam penjelasannya, dengan teknologi kedokteran yang canggih, kami dapat merencanakan, jenis kelamin anak kami kelak. Ada kebimbangan, apakah cara yang kami tempuh ini diridloi atau tidak oleh Allah SWT.

Setelah pemeriksaan dilakukan kepada sang isteri, ternyata ada permasalahan hormon, sehingga indung telur tidak dapat dibuahi. Sang pakar yang merupakan professor dokter, yang sudah menjadi dokter ketika aku lahir, (itu adalah jawaban dia, ketika aku bertanya berapa usianya...), memberikan obat dan berpesan, setelah menstruasi hari pertama, disuruh datang kembali, dengan keputusan apakah mau melaksanakan program "gender selection" tersebut dan kami harus memilih apakah lewat bayi tabung atau inseminasi. Sebenarnya ada banyak teknik untuk berupaya memilih gender. Ada yang namanya Shettles Methode, dengan mempertimbangkan sperma pembawa gen perempuan lebih lama bertahan hidup daripada sperma gen laki, maka kalau ingin laki-laki, intercouse dilakukan paling lambat 12 jam sebelum ovulasi, dan jika ingin perempuan beberapa hari sebelum ovulasi. Teknik yang cukup sederhana, tetapi harus mengetahui kapan ovulasi terjadi, untuk itu harus dilakukan pengukuran suhu tubuh secara rutin. Metode lainnya adalah In vitro fertilization atau bayi tabung. Pembuahan dilakukan didalam cawan petri (kenapa gak disebut bayi cawan ya..?), kemudian embrio ditanamkan ke dalam rahim. Shettles methode mempunyai tingkat keberhasilan lebih rendah tetapi lebih murah tentunya dibanding in vitro fertilization. Metode lain yang cukup menjanjikan dan lebih murah ongkosnya adalah Intraurine Insemination (IUI). Dimulai dengan teknik pemisahan sprema laki dan perempuan lewat Erricson Albumin Methode, sperma yang sudah dipilih akan disuntikan ke dalam rahim sehingga diharapkan terjadi pembuahan.   Kami sangat ragu untuk membuat keputusan, apakah ini merupakan jalan yang tepat, secara kami tidak mempunyai masalah kesuburan yang serius. Kami hanya ingin anak perempuan.....itu saja koq!.

Hari-haripun berlalu, dan mestruasi yang ditunggu-tunggupun, tak kunjung datang.

Kami mulai curiga, jangan-jangan.......????. Ternyata dugaan itu benar, sang isteri sudah positif hamil, setelah diperiksa test pack pada minggu berikutnya.

Kamipun pasrah, ini memang kehendak Allah SWT, bahwa kami dikaruniai anak ketiga tanpa sempat berkonsultasi lebih lanjut tentang gender selection.

Kami sepakat untuk tidak bertanya lagi tentang jenis kelamin, juga kepada dokter kandungan ketika kami memeriksakan kondisi kandungan, tetapi hati ini selalu H2C (Harap-Harap Cemas). Genap 40 minggu dilalui, hari sabtu, minggu yang lalu, kami pergi ke rumah sakit lengkap membawa kopor, setelah meminta restu dari orang tua. Dengan yakin sekali, kamipun memasuki rumah sakit dan langsung ke ruang bersalin di lantai 2. Setelah diputuskan untuk diinduksi dengan tablet, beberapa saat isteriku mulai merasakan mules yang luar biasa, tetapi setelah beberapa lama rasa mules sang isteri pun akhirnya hilang, dan "pembukaan" masih 1-2. Proses induksi dilakukan yang kedua, hasilnya sama. Dokter menyarankan untuk meneruskan proses induksi yang ketiga...Satu kali proses induksi saja memakan waktu 6 jam dam selama itu mules-mules berlangsung kurang lebih 5 menit sekali. Aku gak tega melihat isteriku mules-mules lagi. Konsultasi (lebih tepatnya negosiasi) berakhir dengan keputusan membawa kembali isteriku pulang ke rumah. Setelah menyelesaikan biaya administrasi dan tanda tangan pernyataan bertanggung jawab atas keputusan tersebut, maka pulanglah kami ke rumah. Kamipun disarankan menunggu lagi satu minggu ke depan dan dipesankan untuk lebih banyak dibawa jalan, padahal hampir tiap malam aku harus mengolesi counterpain ke betis isteriku yang mulai terlihat bengkak. Rasa khawatir mulai menyelimuti kami, apakah si bayi masih bisa selamat bertahan dalam kandungan. Dua hari sekali kami pergi ke dokter kandungan, memeriksakan kondisi jantung si bayi dan kesehatan ibunya.

Sabtu, 1 Desember 2007 pukul 07.30, akhirnya penantian kamipun berakhir....lewat operasi cesar, sang putri lahir ke dunia, memecah heningnya keluarga kami dengan lengking tangisan soprano-nya.......Alhamdulillahi rabbil alamin,....Allah SWT sangat sayang kepada kami....tak terpikir bagaimana kami membalasnya..

Subhanallah..Allahu Akbar....

 

By rKyu

 

 

Posted at 2:56:01 pm by Adr
Comment (1)  

Thursday, November 15, 2007
Wine blind-tester challenge

"A sweetheart is a bottle of wine, a wife is a wine bottle."
— Charles Baudelaire

 Lebaran hari ke-2, seharusnya masih dalam suasana liburan keluarga. Apa boleh buat, atas nama tugas, sang buruh kapitalis (lagi-lagi) mengorbankan waktunya untuk meninggalkan anak & isteri tercinta, untuk memenuhi undangan meeting di Paris.

Seorang teman menggodaku, bahwa kali ini mudik termahal yang aku jalani. Entah maksudnya mahal ongkosnya, atau mahalnya pengorbanan keluarga, merelakan aku meninggalkan di hari yang penuh kegembiraan.

 

Alkisah, di sela-sela meeting pada hari kedua, seluruh participant diundang untuk group dinner di sebuah restoran di bilangan Rue des Eaux, dekat Tour de Eiffel.

Ternyata, tempat yang dikunjungi adalah museum anggur (musee du vin Paris), yang menyerupai lorong gua bawah tanah, lengkap dengan sejarah pembuatan wine dan alat-alat pembuatannya dari jama baheula. Sebenarnya aku ragu untuk meneruskan acara dinner ini, tapi apa boleh buat, terlanjur ikut dan lapar pula. Kutekadkan untuk tidak mencicipi wine-wine tersebut. Untungnya, kawanku Mohammed Farag dari Egypt, juga tidak minum khamr ala Perancis ini.

Tetapi yang menarik adalah, bagaimana French people ini, menganggap bahwa minum wine bukan sekedar menegaknya sampai mabuk atau klyengan, tapi merupakan salah satu "table manner" dalam bersosialisasi. Pengetahuan yang dalam tentang rasa, aroma dan warna atau penampilan wine, menjadi prestige tersendiri.

"Red wine is serving while you eat meat, and white wine is for fish menu" ujar Mathieu, temanku yang duduk disebelah meja. "How about champagne?" isengku bertanya pada dia. "Ooh, it's fit for any kind of food, but it's not table wine".jawabnya. "Ooh, really…." Ucapku, padahal sumprit kagak ngarti bedanya table wine dengan wine-wine lainnya.

 

Tibalah saatnya untuk blind tester challenge, setiap orang diberikan 3 gelas wine yang berbeda dengan sebuah kuesioner untuk menerka wine dari region mana, jenis anggur apa dan pembuatan tahun berapa. "It's a heavy task" ujar Farag sambil mendelik ke arahku.

Tanpa berpikir panjang, kuisi kuesioner dengan cepat dan kujauhkan gelas-gelas wine seolah sudah selesai. Farag tersenyum kearahku, sambil berujar: "How can you answer the questioner, you're not even taste it"

"I can guess from the level of glycerin in the bottom of the glass. And also from the color of the wine" ujarku tetep ngeles, walaupun gak dicicipi tapi yang penting jawab. "ooh impressive, can you see the glycerin ?" …."Of-course, not my friend, he he he" kataku setengah berbisik.

Akhirnya Farag pun mengisi kuesioner juga tanpa memandang wine-wine tersebut.

Tamu-tamu yang lain sibuk mengulang-ulang mencicipi wine sambil menerka-nerka jenis apa wine tersebut. "It's Bordeaux….C'est pas possible Burgundy" ujar Mathieu memandang heran melihat jawabanku. "It's OK, I can change the answer…C'est pas problem" jawabku enteng.

 

"Mohammed, I think we can start taking our dinner as we finished our challenge" ajakku, mengambil makanan di meja lain. Tetapi ternyata, makanan itu akan disajikan di meja, dan akupun tetap harus menunggu acara itu berakhir.

 

Sebelum acara dinner itu berakhir, aku sempat berujar kepada Mohammed, "Actually, as a Moslem, we're not allowed to sit one table with the people drinking khamr, it's a hadits. Do you agree?" . Farag pun menjawab "I already ask for Allah merci, so Istifar…." ujarnya sambil tersenyum.

Ya Allah, lagi-lagi aku tak berdaya mengikuti arus gelombang "Hubbud-dunya" di samudra kapitalis tak bertepi....Astagfirullahal adziim…

 

Paris, 16 October 2007.

 

By rKyu

Posted at 3:54:42 pm by Adr
Comments (2)  

Tuesday, November 13, 2007
Tak semua India itu buruk

Siang itu, kami berdua (saya & Adi) seperti biasanya pergi ke Mesjid Nabawi untuk menunaikan shalat Zhuhur. Kami sengaja mempercepat jadwal makan siang dengan berburu Sop Kikil di rumah makan Indonesia, karena ada jadwal "piket" di kamar hotel, sehingga baru boleh pulang selepas maghrib.

Setelah selesai shalat, seorang jamaah berperawakan sedang, hidung macung, dengan kumis dan jambang tipis, memakai baju gamis putih kekuning-kuningan (broken white), datang mendekati kami. Sepertinya berasal dari India atau Pakistan, (kami tak pandai membedakan saudara dari India atau Pakistan).

"Assalamu 'alaikum, brother....how are you?". Ucapan salam dijawab dengan lengkap oleh temanku, Adi , dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Sorry to disturb your time. As we are brother, I need your help. I don't have any money for eat. My country, recently, has been struck by earthquake…..and so…and so". Sangat pelan, sopan dan lancar  dalam membawakan cerita tantang dirinya yang sedang dalam kesulitan. Dalam kondisi normal, sebagai tamu Allah, yang sedang melaksanakan ibadah Haji, sudah barang tentu kami akan tersentuh dan dapat dipastikan, akan memberikan sedekah untuk meringankan bebannya. Tetapi, tidak demikian kala itu, buat temanku yang kritis terhadap cerita tadi. Ia berusaha mengajak ngobrol lebih jauh tentang daerah asal jamaah yang dilanda gempa, dimana keluarganya sekarang berada, bagaimana rencana jamaah ini selanjutnya. Adi, temanku, berusaha untuk mengajak jamaah ini, untuk menemui Imam Mesjid atau perwakilan kedutaan jamaah itu berasal, atau kantor perwakilan urusan haji Saudi, untuk meminta bantuan atau jalan keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi. Kontan, jamaah ini menolak, dan bilang: "It's OK, if you cannot give money, wa alaikum salam" ujarnya sambil berlalu.

Kami memang agak curiga dengan penampilan dan gaya bicaranya yang seolah-olah fasih terstruktur keluar dari mulut seorang yang sedang dalam musibah.

"Sudahlah, biar aja…" ujarku mengajak sang teman, yang masih penasaran memperhatikan gerak gerik jamaah tadi. Sang Jamaah tadi, terlihat seperti mencari jamaah lain untuk bercerita lagi. Temanku ini mengajak aku untuk mendekati dan mendengarkan apalagi yang akan diceritakannya. Aku berusaha menenangkan dia, sambil berujar : "Sudahlah, mungkin itu hanya ujian bagi kita, agar kita tetap bisa menolak secara baik. Ingat lho, berbantah-bantahan  itu juga bisa merusak ibadah haji kita ".

Akhirnya, kamipun pergi menjauh, mencari tempat untuk duduk-duduk sambil tilawah Al-Qur'an. Sahabatku ini sempat berujar : "Dasar India, dimana-mana selalu saja mau menipu". Kami sempat tiduran didalam mesjid, sebelum akhirnya memutuskan keluar untu sekedar berjalan-jalan menunggu saatnya waktu ashar . Tiba-tiba temanku menyadari bahwa handphone Samsung-nya hilang, mungki  terjatuh dari saku celananya.

Aku pun mengeluarkan handphoneku dan berusaha menelepon nomor temanku.

Awalnya tidak ada jawaban, sepertinya handphone tidak aktif. Setelah beberapa kali mencoba, tiba-tiba ada yang menjawab dari nomor tersebut. "Hallo, assalamu alaikum, who is this?" tanyaku. "Aaaah, I'm Mr. Bashiir, where are you?". Akhirnya, kami sepakat janjian untuk bertemu di TAIBA center. Setelah beberapa saat, kamipun bertemu. Sahabatku langsung memeluk Bashiir dengan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami tahu bahwa dia adalah seorang pengusaha asal India yang bermukim di Pakistan. Penampilannya cukup keren, terpelajar dan sangat santun, dia datang bersama dua temannya (terlihat seperti pegawainya, karena mereka membawakan barang belanjaannya Bashiir), dan kamipun bertukar cerita dan alamat. Kami sempat berfoto bareng bertiga dengan background mesjid Nabawi.

Ketika kami pulang, tak henti-hentinya sahabatku beristigfar, ternyata Su'udzon kami tentang etnis India, dijawab kontan oleh Allah SWT, dengan mempertemukan kami kepada saudara kami yang mempunyai keluhuran budi, kejujuran hati serta ketinggian intelektual, yang sangat jauh dari "cercaan" yang sudah dilontarkan.

Hari ini, sebuah pelajaran telah didapat lewat teguran yang sangat halus, bahwa kesombongan hati tidak seharusnya terbawa kesini…..

 

(Dallah hotel- Madinah,   Dzulhijjah 1426 H)

 

By rKyu      

 

Posted at 5:26:31 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Monday, October 29, 2007
m0Bil imF1aN

Kupernah punya .. mobil balap sendiri ..
Yang bisa ngebut .. dijalanan tiap hari ..
Ku tidak pernah merasakan kesepian ..
Tak ada gadis yang menolak diantarkan ..

 

Ocehan David Naif yang kudengar di frequency I-Radio, siang itu mengusik darah sembalap-ku memacu mobil di jalanan. Kumerasa berada di lintasan Suzuka, Silverstone atau Magny-Cours ….. Khayalan 'tuk jadi Ayrton Senna, Schumacher, Kimmi atau Hamilton, menggeber jet darat, memacu adrenalin sampai ke ubun-ubun, tak pernah hilang, sejak pertama kali diajak Bapak menonton balap go-kart di jalanan Ganesha tahun 1970-an.

Nasib memang tak pernah membawaku ke lintasan sirkuit, apalagi bersentuhan dengan dunia auto-mobil. Nyali-ku memang cuman secuil kalo untuk urusan kebut-kebutan. Paling-paling cuma berani nonton F1diam-diam malam-malam, dengan resiko terberat dapat omelan dari isteri tercinta.

Untuk sekedar melamunkan mobil impianpun tak pernah cukup punya nyali. Saking jiper-nya, khayalan itu datang, beragam majalah automotif-pun anti dilirik. Padahal gelar sarjana yang diraih di bidang MESIN.  Hwarakadah!!, teori motor bakar, getaran mekanik, kekuatan elemen mesin, suspensi, emisi gas buang, mekanika fluida, drag dilalap habis selama 9 semester. Tune-up engine motor bebek, motor 2 tak, Kijang, land rover sampai mesin Caterpillar untuk dump truck  pernah dilakoni. Gear box jeep willys, mesin kijang 4 K, submersible pump, cryogenic pump dan gas turbine generator pun pernah kubongkar, tapi pastinya akan gagal jika kupasang kembali.

Tetap saja, jiwa permesinan itu tak pernah merasuk kedalam dan terlarut di sukma.

I'm dreaming machinery, I'm living mechanically, I'm working a rotating machine, truck, crane etc, but still more interest on human being…huek-huek.

 

Just to satisfied, my childish ego to have a dream car, I took a photo of truly dreaming vehicle Mercedes Benz SLR McLaren Roadster …..That is my dreaming car....at least for now.

 

                                                                    (Photo by Sony DSW-80, Friday 19 October 2007, 10.47 local time)

 

 

By rKyU

 

(Oleh-oleh dari jalan-jalan sewaktu lebaran, biar ada ide buat nulis lagee :

5U554H C4R1 1NN55P1R4551….)

 

 

Posted at 3:26:25 pm by Adr
Comment (1)  

Thursday, April 05, 2007
Cerita Cinta Laila Majnun

 

 “Only man can know the pain of having something that he doesn’t need. While need something that he doesn’t have……”

 

Laila Majnun, sebuah kisah dari cerita rakyat arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang pemuda, Qais keturunan Bani Amir.

Qais yang semula pandai, gagah dan berasal dari kabilah terhormat, menjadi “majnun” alias gila, karena kasihnya yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya, sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan “majnun” tak dapat ditepisnya.

Kisah tentang Qais dan Laila yang hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.

Suatu ketika Qais memutuskan ikut berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara habis.

Meskipun sangat sedih, Laila merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.

Sepeninggal Qais, Laila hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sa’d bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Laila, Sa’d bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sa’d bin Munif. Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Laila. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus. Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais. Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sa’d bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sa’d bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.

Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sa’d bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sa’d bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila.

Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.

 

Cinta memang tidak datang tiba-tiba, juga tidak dapat padam seketika.

Tak seorangpun dapat mengelak jika gelora asmara tiba-tiba menggelegak.

Tak ada jiwa yang dapat menyangka, jika badai cinta menggelora di dada.

Cerita roman yang penuh puisi cinta dan pengorbanan, menjadi inspirasi para pemuja cinta, yang rela “mengorbankan” hidupnya demi cita-cita absurd yang bertema cinta.

Persis cerita shakespeare tentang Romeo & Juliet yang berujung bunuh diri karena tak sudi menyerah atas perjuangan cintanya, cerita film Titanic tentang Rose DeWitt & Jack Dawson, yang “gagal” mewujudkan cinta mereka dan tenggelam bersama Titanic yang perkasa, cerita epik – romantik ini selalu menjadi “contoh khayal” para pemujanya, yang selalu mengagungkan cita-cita cinta mereka.

Laskar cinta, rekaan Dhani Ahmad, adalah salah satu lagu yang banyak digandrungi orang karena nada dan liriknya yang seolah meng-kampanyekan keagungan cinta.

Banyak orang yang tergelincir kedalam kekufuran karena api cinta yang menyala-nyala. Banyak orang tersesat dari jalan surga, karena tipu daya syahwat yang berbungkus cinta.

Banyak orang yang “termehe-mehe” (baca: melankolis, mengurai air mata)  ketika mendengarkan lagu-lagu Chrisye bertemakan cinta.

 

Padahal, cinta sejati seorang muslim adalah cintanya terhadap Allah SWT & Rasul. Apapun yang diperbuatnya, selalu menginginkan pertemuannya dengan Allah &Rasul di akhirat kelak. Cinta yang berlandaskan keimanan, seolah mengorbankan keluhuran jiwa dan kemurnian hati, yang dinamakan cinta. Padahal cinta terhadap kekasih hati, belahan jiwa, tumpuan asa, tidak pernah diharamkan oleh agama. Tetapi itu semua haruslah demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Sang Pecipta, Allah Robb Al Amin..

 

Laila Majnun hanyalah sebuah kisah cinta sepasang manusia biasa, yang mungkin menerpa kita juga. Tak perlu kita mengagungkan perjuangan cintanya karena hal itu sama saja menggugat takdir yang diberikan Allah.

Cinta adalah “bumbu” kehidupan yang menjadikan indahnya perjalanan hidup manusia.

Cinta bukanlah tujuan dari keberadaan manusia di dunia, bukan pula akhir dari perjuangan di alam fana. Cinta hanyalah “kendaraan” untuk meraih kebahagiaan sejati, yaitu keridloan Allah untuk mendapatkan surga, yang luasnya seluas bumi dan langit.

 

“When I’m Falling Love....It will be completely…Or I never Fall in Love……..”

(Dapatkah kita menerapkannya dalam mencintai Allah & Rasul ???) 

 

By r.k.y.u

Posted at 5:15:28 pm by Adr
Comments (5)  

Monday, March 26, 2007
MUBAH MENUNTUN KEPADA KUFUR

 

Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil, demikianlah pepatah dan nasihat yang biasa kita temukan, sekedar untuk membesarkan semangat untuk melakukan hal-hal yang besar dengan memulainya walaupun melalui hal yang kecil.

Sebuah bangunan yang megah dibuat dimulai dengan coretan kecil dalam site plot plan untuk merancang tata letak bangunan tersebut.

Sebuah pesawat ulang alik yang canggih merupakan perkembangan teknologi aeronotika dimulai dari coretan lamunan ikarus tentang manusia terbang.

Begitu pula dengan dosa yang besar yang merupakan akumulasi dari dosa-dosa kecil yang terus-menerus bertumpuk tanpa adanya upaya membersihkan diri lewat taubat.

Ketika dalam kehidupan ini kita menemukan banyak orang yang merasa cukup dengan dunia dan agama yang dipunyainya, seakan-akan rahmat Allah SWT telah menyempurnakan derajat mereka disisi-Nya. Padahal tanpa adanya cobaan yang datang untuk menguji kesabaran mereka, mustahil derajat ketaqwaan akan meningkat.

Ketenangan hidup, kemewahan dunia, kedamaian hati, mungkin memang itulah kemurahan Allah bagi orang-orang yang dianggap "lemah" terhadap ujian berat yang diperuntukan bagi orang yang bertaqwa. Kita patut untuk mensyukuri "berkah" Allah, yang memberi kita dengan ujian kesabaran yang ringan seperti itu. Sesungguhnya Allah mengajari kita untuk memintakan ujian yang teramat ringan di dunia ini, tanpa merendahkan kualitas keimanan kita. 

Namun jika karunia nikmat tersebut disikapi dengan ketidakpuasan terhadap apa yang diterima di dunia ini, hal ini nenjadi sebuah bencana yang teramat besar.

Keinginan dan ketidakpuasan yang menggelora haruslah dapat dikendalikan dengan ilmu dan iman, karena sebenarnya hal itu merupakan nafsu yang takkan kunjung memuaskan. Begitulah setan menggoda manusia lewat hembusan nafsu yang selalu membayangi di setiap langkah kehidupan kita, tanpa kita menyadarinya.

Langkah kita selalu akan diseret kepada hal-hal yang mubah atau berpotensi menimbulkan dosa kecil. Penundaan waktu shalat, pergunjingan dengan dalih menggali kebenaran, diskusi kritis terhadap dalil-dalil qath'i, sikap mendahulukan toleransi yang melemahkan terhadap penegakan hukum syar'i, merupakan langkah awal yang dapat menuntun kepada kekufuran yang besar.

"Ketahuilah pintu-pintu mubah yang terbuka amat lebar akan melukai agama anda begitu dalam. Waspadalah terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi, pakailah pakaian perang jika berperang. Lihatlah akibat dari perbuatan dan pekerjaan anda serta apa yang akan anda petik dari kealukan-kelakuan anda. Teruslah waspada untuk menjauhi apa yang sekiranya akan membahayakan, meski anda belum yakin sepenuhnya..."(dikutip dari nasihat ulama Imam Ibnu Al Jauziy)

 

Salam,

RkYu

 

Posted at 4:34:29 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Next Page