It’s not easy if you don’t realize it, it’s not difficult if you know how to deal with.
Berawal dari obrolan wall-to-wall di facebok, akhirnya satu persatu teman SMA dan SMP tersambung kembali. Obrolan demi obrolanpun bermuara dengan ajakan mengadakan reuni akbar, setelah lebih dari 20 tahun tidak bertemu. .
Salah satu teman mengusulkan reuni kali ini bertemakan : Life begins at forty, secara memang umur kami rata-rata baru memasuki periode forty. Terkadang sebagai bercandaan, seorang teman bercerita bahwa banyak isteri2 yang khawatir ketika para suami berumur 40-an, karena banyak diincar para omnivora alias wanita penggemar om-om. Ada juga yang mengkiyaskan, umur 40 seperti usia Nabi Muhammad ketika diangkat sebagai rasul, sehingga dianggap sebagai sebuah periode usia kematangan seseorang.
Banyak pula yang mencapai kesuksesan hidup pada fase usia tersebut, sehingga mampu mewujudkan cita-cita hidupnya, seperti mencapai puncak karir, mempunyai perusahaan, memperoleh capital atau property, membentuk keluarga yang bahagia atau menjadi tokoh panutan masyarakat dsb. Tetapi, banyak pula yang mendapati “kegagalan”; baik dalam memperjuangkan karirnya, kehilangan harta yang dipunyai atau gagal dalam mempertahankan keutuhan keluarga. Seorang teman, di usia 40, dia bisa mendapatkan posisi yang cukup berpengaruh di sebuah perusahaan asing tempatnya bekerja. Rumah, mobil, serta hobynya yang mahal pun tersalurkan, sehingga terlihat lengkaplah sudah, ukuran kesuksesan yang diraihnya. Setahun berselang, affair dengan seorang mahasiswi kerja praktek, berujung dengan keputusan memulangkan sang isteri beserta anak-anak tercinta, ke rumah mertuanya, yang berada nun jauh diluar kota. Affairpun berujung ke pelaminan, walau tidak banyak yang tahu. Cerita tidak berhenti sampai disitu, entah kenapa, karirpun mulai goyah, dan akhirnya, dia harus hengkang tersingkir dari tempatnya bekerja, karena kasus manipulasi yang dilakukannya. Selanjutnya, dia bak ditelan gelombang tsunami, hilang dan sudah lama aku tak mendengar kabar darinya.
Cerita lain, sahabat yang menyatakan baru “berhijrah” dan mendalami agama secara tekun, sampai-sampai memanggil guru ngaji privat seminggu sekali di rumahnya. Di umur 40, dia mampu mewujudkan nazarnya untuk menunaikan ibadah haji bersama isterinya dari pernikahan yang kedua, yang baru dinikahinya 3 tahun yang lalu. Dia tampak bahagia, walaupun materi yang didapatnya tidak sebanyak dahulu, ketika dia aktif bermain saham serta berbagai investasi keuangan. “ Akhirnya, aku meninggalkan dunia ribawi dan mendapatkan uang dari usaha yang halal” ujarnya ketika bercerita tentang bisnisnya yang lalu. 2 tahun berselang, aku menemukannya telah bercerai dengan isterinya, karena alasan ekonomi. Perselisihan tentang keuangan akibat usahanya yang tidak sepesat dulu, berujung dengan keputusan berpisah, serta meninggalkan perseteruan harta yang tidak kunjung selesai. Beruntung mereka tidak mempunyai anak, yang akan hanya menjadi korban akibat keegoisan mereka. Ada pula teman yang mencapai karir yang cukup prestisius, yaitu sebagai direktur (termuda) di BUMN ternama, ketika dia baru mencapai usia 40. Semua teman memujinya dan bangga akan kesuksesan yang diraihnya. Ada lagi, teman yang terkena PHK, sehari setelah dia merayakan ulang tahunnya yang ke 40. Selama 2 tahun, dia praktis menganggur, seolah putus asa setelah mencari pekerjaan kemana-mana. Tetapi selama 2 tahun itu, dia banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya tercinta, dimana hal tersebut sangat sulit dilakukan ketika dia masih bekerja dulu. Mengantar anak ke sekolah, menemani belajar, menolong membuatkan prakarya dsb. Lagi-lagi dia beruntung karena sang isteri masih mempunyai pekerjaan, walau hanya sebagai staff di sebuah perusahaan lokal. Akhirnya sekarang, temanku ini sudah mendapatkan pekerjaan kembali, setelah berulang-ulang mencoba melamar ke berbagai perusahaan. Cerita teman yang lain, menjelang usianya ke 40, bak disambar gledek di siang bolong, ketika mendengar kabar, isterinya divonis mengidap kanker stadium 4. Segala upaya dilakukan, berobat ke dokter, mengkonsumsi obat-obatan herbal, berdo’a serta bermunajat di waktu-waktu yang diijabah. Alhasil, sekarang setelah 2 tahun berlalu, isterinya masih sehat, walau tetap rutin berobat.
Entah kebetulan atau tidak, cerita-cerita tadi terjadi ketika usianya menjelang 40-an, living as forty memang bukan sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. Kadang diperlukan kesabaran untuk “melihat & mendengar” serta belajar dari pengalaman hidup orang lain. Terkadang ego diri yang melambung tinggi, yang merupakan buah ekses dari rasa percaya diri berlebih serta pengakuan orang-orang sekitar atas pencapaian prestasi, akhirnya menjadikan kita seperti orang yang asing dimata orang – orang di dekat kita.
Being Forty is like a second teenager syndrome. Pujian atas prestasi yang diraih, menjadikan lupa daratan (padahal segala puji hanya milik Allah) dan kadang berulah salting yang kampungan seperti layaknya anak ABG baru pakai celana panjang.
Being Forty is like being reborn. Rambut yang mulai beruban, kerutan dahi terlihat samar, gaya bicara mulai memancarkan wibawa, jikalau diam pun, terkadang membuahkan pesona. Seorang sahabat menasihatiku: “Hati-hati kalau memberi atensi lebih kepada lawan jenis, dalam hubungan teman kerja apalagi junior ataupun terhadap murid”. Empaty yang salah tempat akan membuat persepsi salah arti dan membuat harapan semu. Apalagi secara tidak langsung, mereka mengidolakannya. Malah, para isteripun harus pandai-pandai bercerita tentang kebaikan-kebaikan suami. Dalam salah satu tips agar menjadi pasangan suami-isteri bahagia, buku karangan ………; isteri dilarang untuk memamerkan kebaikan ataupun rasa cinta suami kepada wanita lainnya. Ini dikarenakan akan kekhawatiran timbulnya rasa iri terhadap yang bercerita dan rasa sesal terhadap suami sendiri jikalau hal tersebut tidak didapatkan dari suaminya.
Being Forty is sunatullah, it’s just period of time that anybody has to pass through.
Bagaimana agar dapat dilalui dengan selamat, maka banyaklah belajar dari pengalaman yang lain, bersabarlah atas segala yang didapat, semakin mendekatlah kepada kebaikan serta kesholehan serta syukurilah atas segala nikmat yang didapat…..
21 February 2009 , Alhamdulillah, I’m 41 now!!!
-..-