"A sweetheart is a bottle of wine, a wife is a wine bottle."
— Charles Baudelaire
Lebaran hari ke-2, seharusnya masih dalam suasana liburan keluarga. Apa boleh buat, atas nama tugas, sang buruh kapitalis (lagi-lagi) mengorbankan waktunya untuk meninggalkan anak & isteri tercinta, untuk memenuhi undangan meeting di Paris.
Seorang teman menggodaku, bahwa kali ini mudik termahal yang aku jalani. Entah maksudnya mahal ongkosnya, atau mahalnya pengorbanan keluarga, merelakan aku meninggalkan di hari yang penuh kegembiraan.
Alkisah, di sela-sela meeting pada hari kedua, seluruh participant diundang untuk group dinner di sebuah restoran di bilangan Rue des Eaux, dekat Tour de Eiffel.
Ternyata, tempat yang dikunjungi adalah museum anggur (musee du vin Paris), yang menyerupai lorong gua bawah tanah, lengkap dengan sejarah pembuatan wine dan alat-alat pembuatannya dari jama baheula. Sebenarnya aku ragu untuk meneruskan acara dinner ini, tapi apa boleh buat, terlanjur ikut dan lapar pula. Kutekadkan untuk tidak mencicipi wine-wine tersebut. Untungnya, kawanku Mohammed Farag dari Egypt, juga tidak minum khamr ala Perancis ini.
Tetapi yang menarik adalah, bagaimana French people ini, menganggap bahwa minum wine bukan sekedar menegaknya sampai mabuk atau klyengan, tapi merupakan salah satu "table manner" dalam bersosialisasi. Pengetahuan yang dalam tentang rasa, aroma dan warna atau penampilan wine, menjadi prestige tersendiri.
"Red wine is serving while you eat meat, and white wine is for fish menu" ujar Mathieu, temanku yang duduk disebelah meja. "How about champagne?" isengku bertanya pada dia. "Ooh, it's fit for any kind of food, but it's not table wine".jawabnya. "Ooh, really…." Ucapku, padahal sumprit kagak ngarti bedanya table wine dengan wine-wine lainnya.
Tibalah saatnya untuk blind tester challenge, setiap orang diberikan 3 gelas wine yang berbeda dengan sebuah kuesioner untuk menerka wine dari region mana, jenis anggur apa dan pembuatan tahun berapa. "It's a heavy task" ujar Farag sambil mendelik ke arahku.
Tanpa berpikir panjang, kuisi kuesioner dengan cepat dan kujauhkan gelas-gelas wine seolah sudah selesai. Farag tersenyum kearahku, sambil berujar: "How can you answer the questioner, you're not even taste it"
"I can guess from the level of glycerin in the bottom of the glass. And also from the color of the wine" ujarku tetep ngeles, walaupun gak dicicipi tapi yang penting jawab. "ooh impressive, can you see the glycerin ?" …."Of-course, not my friend, he he he" kataku setengah berbisik.
Akhirnya Farag pun mengisi kuesioner juga tanpa memandang wine-wine tersebut.
Tamu-tamu yang lain sibuk mengulang-ulang mencicipi wine sambil menerka-nerka jenis apa wine tersebut. "It's Bordeaux….C'est pas possible Burgundy" ujar Mathieu memandang heran melihat jawabanku. "It's OK, I can change the answer…C'est pas problem" jawabku enteng.
"Mohammed, I think we can start taking our dinner as we finished our challenge" ajakku, mengambil makanan di meja lain. Tetapi ternyata, makanan itu akan disajikan di meja, dan akupun tetap harus menunggu acara itu berakhir.
Sebelum acara dinner itu berakhir, aku sempat berujar kepada Mohammed, "Actually, as a Moslem, we're not allowed to sit one table with the people drinking khamr, it's a hadits. Do you agree?" . Farag pun menjawab "I already ask for Allah merci, so Istifar…." ujarnya sambil tersenyum.
Ya Allah, lagi-lagi aku tak berdaya mengikuti arus gelombang "Hubbud-dunya" di samudra kapitalis tak bertepi....Astagfirullahal adziim…
Paris, 16 October 2007.
By rKyu