<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31









 
s'associer a mes amis Mas Oyi; Hadi tea
Terima Kasih sudah mampir yaa
Locations of visitors to this page

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 08, 2011
Pindahan.............

karena satu dan lain hal, blog ini pindah ke : www.adriantisna.wordpress.com sila mampir

Posted at 4:33:18 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Saturday, January 01, 2011
Garuda didadaku

“Garuda di dadaku….Garuda kebanggaanku….kuyakin hari ini pasti MENANG”   Gara-gara semalam lihat video klip Indah Dewi Pertiwi, yang dikasih remote ajaib sama Budi Anduk, mimpiku semalam seperti film Quantum Leap. Tiba-tiba aku berada diantara Bustomi dan Oktovianus Maniani, menyanyikan lagu Indonesia Raya, di lapangan Gelora Bung Karno. Riuh gemuruh suara penonton , seolah angin tornado yang menyelubungi lapangan hijau yang ku injak. Lagu Garuda didadaku memekikan semangat dalam kepalaku.  Kulihat nomor di dada kananku, Tujuh Belas !!! .….wadoh, gak salah nich ?. Belum sempat hilang rasa kagetku, seolah baru tersadar dari amnesia, seseorang dari belakang menepukku.. : ‘ Come on, boy. Give your best !!’ , Masya’ Allah, Gonzales ternyata….. Sementara Firman Utina, mengacungi jempol sambil tersenyum.. Sempat kulihat tangan kananku yg penuh tatoo dan ku rapihkan belahan rambutku. Yes !!…..I become Irfan Bachdim……yes, yes….aku kegirangan, meloncat-loncat sambil menengadah wajah ke atas,  menyilangkan jempol dan telunjukku ke bibir. Kontan, seluruh pemain bingung, ‘Irfan, what a hell you’re doing?’ teriak Riedl dari pinggir lapang. Kukuasai diri, sambil mengangkat jempol dan tersenyum , aku pun berlari mencari posisi.Hari ini, pertandingan melawan Malaysia…. lawan berseragam biru berpoles merah. Rata-rata berambut cepak ala mohawk. Ini adalah final AFF leg 2 ternyata…..tp koq okto main ya? (ah….namanya juga mimpi, bebas aja…). Permainanpun berlangsung ketat, saling serang, saling jegal tapi tanpa sinar LASER la yaw.. Priiit, wasit Australia itu meniup peluit, tanda pelanggaran di kotak penalty. Firman bersiap menghadapi bola, ach aku ingat sekarang, tendangannya akan mengarah ke kanan, dan diblok ama si cengos Fahmi. Ketika Firman bersiap, dan peluit aba-aba berbunyi, aku langsung mendahului Firman, ku tendang bola mengarah ke sudut kanan. gawang. Si cengos sudah bergerak ke kiri gawang, dan gooool…….gemuruh teriakan penonton seperti air tsunami mengguyur seisi stadion. Sementara itu, Firman bengong melongo bingung, jatah tendangan penalti nya kuserobot tapi pemain lain berteriak histeris, memelukku….’Bachdim….bachdim, teriakan penonton dari arah VIP timur. Aku cengar-cengir, sambil berlari memunggut bola dari gawang si cengos dan berlari membawanya kembali ke tengah lapang…. 1 – 0. ‘Let’s play !! ‘ seruku ke Safee yang merengutkan mukanya. Menit-menit berikutnya, berjalan sangat alot, ternyata Hariamau cepak ini gak mau begitu saja menyerah. Aku ingat, si Sapi’i ini akan mencetak gol yang kelimanya di menit 54. Begitu menit ke 52, aku dekati dia, sambil ku berkata ‘ Cam, mana awak nii, badan aja besa, tapi tak adeu adab…badan besa macam kerbau saja, tak adeu otak tau?’…. Kontan saja, si pi’i, muring-muring, konsentrasinya pecah dan menit ke 54, umpan Norsharul, tak jadi berujung gol. Menit berikutnya, pergantian pemain, aku melambaikan tangan, dan geleng2 kepala kepada wolfgang, minta jangan diganti. Terlihat, dia bicara serius dengan Riedl di bangku pemain cadangan. Pergantian pemainpun urung. Akhirnya Nasuha memecah kebuntuan, memberikan gol kedua. 2-0! Rajagobel, menarik semua pemain menjadi bertahan habis-habisan di belakang garis gawang. Aku bicara dengan okto, agar dia mendribel bola mengikut arah lariku ke tengah, tepat di area penalty, di depan pemain lawan, aku menjatuhkan diri ke samping, Amar Rohidlan, yang menjagaku, terkejut dan menjauh, menghindari pelanggaran, dan ketika itu okto langsung melepas tendangan ke arah kanan gawang, tepat mengenai tiang gawang. Kukejar bola muntah tersebut dan langsung ku oper ke belakang, ada gonzales disana. Tanpa banyak waktu, el-Loco langsung menghadiahkan tendangan keras ke arah Fahmi. Bola tak tertahankan….3-0. Safee mulai emosi, dia terus meracau, entah berkata apa…..laskar upin-ipin mulai panik dan hilang percaya diri. Babak kedua selesai, skor masih 3-0…perpanjangan waktu. Babak pertama perpanjangan tidak ada gol, tetapi pada babak keduanya, BePe masuk menggantikan Firman utina, Eka masuk mengganti okto. 3 striker sekaligus, Riedl mencoba menghindari adu penalty. Hasilnya mulai nampak, gawang si cengos dibombardir tendangan jarak jauh dari Eka, BePe dan El Loco. 2 menit menjelang berakhirnya babak perpanjangan waktu, El Loco yang berdiri bebas, mendapat umpan datar dari BePe, setelah berotak-atik dengan gua, The Bachdim jadi-jadian.  Goool, stadion seolah mau runtuh….gemuruh penonton, letusan mercon menambah kemeriahan malam itu. Puas rasaya, melihat harimau ompong cepak tergeletak lunglai. Aku pun memeluk Gonzales, terasa ada yang mengganjal di balik kaosku….oops, remote ajaib itu tertekan dan whoooozz, lompatan quantum berlarian di atas kepalaku….   Tiba-tiba saja, aku sudah berada dalam kumpulan orang berbusana blangkonan lengkap dengan beskap dan keris, di dalam ruangan besar, seperti aula…sayup-sayup suara gamelan jawa terdengar merdu, tetapi aku bisa merasakan ketegangan yang terjadi di ruangan ini.  ‘Sendhiko kanjeng Sultan, pasukan sudah bersiap di perbatasan, TNI berada 20 km didepan..’ Ooowalaah, kini aku jadi Sultan Jogja, dan kini sedang bersiap perang melawan pasukan Koppasus dari TNI.   Dan akupun bernyanyi…… ”Garuda didadaku, Garuda kebangganku…kuyakin hari ini pasti MENANG…………” by RKYU

Posted at 2:07:26 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Thursday, November 05, 2009
Start over again…….

Setelah melihat kembali coretan-coretan hasil penumpahan kata2 hati, terasa ada yang janggal. Tulisan yg sarat dengan pikiran2 bersih, kata-kata bijak, seolah mencerminkan kebeningan hati yang menulis, which is, masih jauh dari kenyataan. Kalo mengingat apa yg sudah dan masih dikerjakan, rasanya malu membaca tulisan2 yang terasa menggurui, kata-kata bijak yang menyejukan atau nasihat-nasihat indah seolah diri sendiri sudah dalam posisi layak menyantuni dan memberi tauladan kepada insan yang lain. Aku merasa MUAK terhadap itu semua, samasekali TIDAK JUJUR, layaknya KEBOHONGAN PUBLIK yang merajalela mengalahkan SAMPAH di sekitar kita semua. Lantas bagaimana?? Ketika hati masih gundah, pikiran terperangah goyah, gejolak rasa di dada tak reda, akhirnya kuputuskan untuk berpuasa pena, menahan diri untuk tak menulisnya. Memang topeng ini tak bisa bicara banyak, karena terhalang tatakrama serta adab yang menahan kepantasan bersandiwara, mengatur irama rasa…..akhirnya tetap saja BOHONG jua…. Kuberjanji untuk lebih terbuka, lebih jujur, lebih apa adanya, walau akan ada yang merasa terluka dan terhina…..biarlah !! rKyu

Posted at 7:15:47 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Friday, February 27, 2009
Living as Forty

It’s not easy if you don’t realize it, it’s not difficult if you know how to deal with.
Berawal dari obrolan wall-to-wall di facebok, akhirnya satu persatu teman SMA dan SMP tersambung kembali. Obrolan demi obrolanpun bermuara dengan ajakan mengadakan reuni akbar, setelah lebih dari 20 tahun tidak bertemu. . Salah satu teman mengusulkan reuni kali ini bertemakan : Life begins at forty, secara memang umur kami rata-rata baru memasuki periode forty. Terkadang sebagai bercandaan, seorang teman bercerita bahwa banyak isteri2 yang khawatir ketika para suami berumur 40-an, karena banyak diincar para omnivora alias wanita penggemar om-om. Ada juga yang mengkiyaskan, umur 40 seperti usia Nabi Muhammad ketika diangkat sebagai rasul, sehingga dianggap sebagai sebuah periode usia kematangan seseorang. Banyak pula yang mencapai kesuksesan hidup pada fase usia tersebut, sehingga mampu mewujudkan cita-cita hidupnya, seperti mencapai puncak karir, mempunyai perusahaan, memperoleh capital atau property, membentuk keluarga yang bahagia atau menjadi tokoh panutan masyarakat dsb. Tetapi, banyak pula yang mendapati “kegagalan”; baik dalam memperjuangkan karirnya, kehilangan harta yang dipunyai atau gagal dalam mempertahankan keutuhan keluarga. Seorang teman, di usia 40, dia bisa mendapatkan posisi yang cukup berpengaruh di sebuah perusahaan asing tempatnya bekerja. Rumah, mobil, serta hobynya yang mahal pun tersalurkan, sehingga terlihat lengkaplah sudah, ukuran kesuksesan yang diraihnya. Setahun berselang, affair dengan seorang mahasiswi kerja praktek, berujung dengan keputusan memulangkan sang isteri beserta anak-anak tercinta, ke rumah mertuanya, yang berada nun jauh diluar kota. Affairpun berujung ke pelaminan, walau tidak banyak yang tahu. Cerita tidak berhenti sampai disitu, entah kenapa, karirpun mulai goyah, dan akhirnya, dia harus hengkang tersingkir dari tempatnya bekerja, karena kasus manipulasi yang dilakukannya. Selanjutnya, dia bak ditelan gelombang tsunami, hilang dan sudah lama aku tak mendengar kabar darinya. Cerita lain, sahabat yang menyatakan baru “berhijrah” dan mendalami agama secara tekun, sampai-sampai memanggil guru ngaji privat seminggu sekali di rumahnya. Di umur 40, dia mampu mewujudkan nazarnya untuk menunaikan ibadah haji bersama isterinya dari pernikahan yang kedua, yang baru dinikahinya 3 tahun yang lalu. Dia tampak bahagia, walaupun materi yang didapatnya tidak sebanyak dahulu, ketika dia aktif bermain saham serta berbagai investasi keuangan. “ Akhirnya, aku meninggalkan dunia ribawi dan mendapatkan uang dari usaha yang halal” ujarnya ketika bercerita tentang bisnisnya yang lalu. 2 tahun berselang, aku menemukannya telah bercerai dengan isterinya, karena alasan ekonomi. Perselisihan tentang keuangan akibat usahanya yang tidak sepesat dulu, berujung dengan keputusan berpisah, serta meninggalkan perseteruan harta yang tidak kunjung selesai. Beruntung mereka tidak mempunyai anak, yang akan hanya menjadi korban akibat keegoisan mereka. Ada pula teman yang mencapai karir yang cukup prestisius, yaitu sebagai direktur (termuda) di BUMN ternama, ketika dia baru mencapai usia 40. Semua teman memujinya dan bangga akan kesuksesan yang diraihnya. Ada lagi, teman yang terkena PHK, sehari setelah dia merayakan ulang tahunnya yang ke 40. Selama 2 tahun, dia praktis menganggur, seolah putus asa setelah mencari pekerjaan kemana-mana. Tetapi selama 2 tahun itu, dia banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya tercinta, dimana hal tersebut sangat sulit dilakukan ketika dia masih bekerja dulu. Mengantar anak ke sekolah, menemani belajar, menolong membuatkan prakarya dsb. Lagi-lagi dia beruntung karena sang isteri masih mempunyai pekerjaan, walau hanya sebagai staff di sebuah perusahaan lokal. Akhirnya sekarang, temanku ini sudah mendapatkan pekerjaan kembali, setelah berulang-ulang mencoba melamar ke berbagai perusahaan. Cerita teman yang lain, menjelang usianya ke 40, bak disambar gledek di siang bolong, ketika mendengar kabar, isterinya divonis mengidap kanker stadium 4. Segala upaya dilakukan, berobat ke dokter, mengkonsumsi obat-obatan herbal, berdo’a serta bermunajat di waktu-waktu yang diijabah. Alhasil, sekarang setelah 2 tahun berlalu, isterinya masih sehat, walau tetap rutin berobat. Entah kebetulan atau tidak, cerita-cerita tadi terjadi ketika usianya menjelang 40-an, living as forty memang bukan sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. Kadang diperlukan kesabaran untuk “melihat & mendengar” serta belajar dari pengalaman hidup orang lain. Terkadang ego diri yang melambung tinggi, yang merupakan buah ekses dari rasa percaya diri berlebih serta pengakuan orang-orang sekitar atas pencapaian prestasi, akhirnya menjadikan kita seperti orang yang asing dimata orang – orang di dekat kita. Being Forty is like a second teenager syndrome. Pujian atas prestasi yang diraih, menjadikan lupa daratan (padahal segala puji hanya milik Allah) dan kadang berulah salting yang kampungan seperti layaknya anak ABG baru pakai celana panjang. Being Forty is like being reborn. Rambut yang mulai beruban, kerutan dahi terlihat samar, gaya bicara mulai memancarkan wibawa, jikalau diam pun, terkadang membuahkan pesona. Seorang sahabat menasihatiku: “Hati-hati kalau memberi atensi lebih kepada lawan jenis, dalam hubungan teman kerja apalagi junior ataupun terhadap murid”. Empaty yang salah tempat akan membuat persepsi salah arti dan membuat harapan semu. Apalagi secara tidak langsung, mereka mengidolakannya. Malah, para isteripun harus pandai-pandai bercerita tentang kebaikan-kebaikan suami. Dalam salah satu tips agar menjadi pasangan suami-isteri bahagia, buku karangan ………; isteri dilarang untuk memamerkan kebaikan ataupun rasa cinta suami kepada wanita lainnya. Ini dikarenakan akan kekhawatiran timbulnya rasa iri terhadap yang bercerita dan rasa sesal terhadap suami sendiri jikalau hal tersebut tidak didapatkan dari suaminya. Being Forty is sunatullah, it’s just period of time that anybody has to pass through. Bagaimana agar dapat dilalui dengan selamat, maka banyaklah belajar dari pengalaman yang lain, bersabarlah atas segala yang didapat, semakin mendekatlah kepada kebaikan serta kesholehan serta syukurilah atas segala nikmat yang didapat…..
21 February 2009 , Alhamdulillah, I’m 41 now!!! -..-

Posted at 4:38:39 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Wednesday, July 02, 2008
”Murah tidak dijual, Mahal tidak terbeli…”

Integritas, kita sering mendengar dan menggunakan kata ini dalam berdiskusi, tetapi mari kita bahas lebih lanjut, apa sebenarnya arti Integritas dalam konteks kerja itu?

Dalam kamus kompetensi, Integritas kerja adalah bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan dan kode etik perusahaan. Memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dan etika tersebut, dan bertindak secara konsisten walaupun akan sulit untuk melakukannya.

Dalam bahasa mudah, integritas dikaitkan kepada perilaku Kejujuran, Transparansi ataupun Keterbukaan terhadap atasan, kolega serta bawahan dalam melakukan pengambilan keputusan dalam bekerja, sesuai dengan prosedur, kaidah kerja serta etika yang berlaku.  

Contoh kecil adalah melakukan absensi setiap pagi karena prosedur kerja meminta kita sebagai karyawan melakukan aktifitas tersebut. Contoh lain adalah melakukan kegiatan pekerjaan sesuai dengan arahan serta prosedur yang berlaku, seperti bersikap tidak memihak atau netral terhadap suatu tender pengadaan atau proyek, pemeriksaan kendaraan sebelum berangkat ke pelanggan, memeriksa barang-barang yang masuk atau keluar sesuai dengan surat order, memakai fasilitas kerja seperti komputer, kendaraan atau yang lain hanya untuk kepentingan pekerjaan, melaporkan kegiatan kerja sesuai dengan data dan fakta serta tepat waktu, menghargai pendapat sesama, saling menghormati dan mentaati norma dan etika kerja dan lain sebagainya.

Integritas kerja wajib hukumnya dimiliki oleh semua karyawan, dari level paling bawah sampai paling atas, karena dengan memiliki integritas kerja, kepatuhan terhadap sistem kerja akan berjalan secara konsisten dan menghasilkan efektifitas kerja yang baik.

Integritas kerja atau dengan bahasa sederhana dikaitkan kepada kejujuran diri dalam bekerja, merupakan hal yang mudah serta murah, karena tidak memerlukan biaya ataupun energi untuk mengimplementasikannya, sehingga tidak untuk dijual. Cukup dengan keikhlasan hati serta kecintaan dan kebanggaan terhadap apa yang dikerjakan, dampak yang akan timbul adalah sikap positif dalam diri, dan tahan terhadap tekanan kerja yang dapat menimbulkan stress.  

Tetapi Integritas kerja juga merupakan hal yang Mahal, karena perusahaan mutlak memerlukan nilai-nilai kejujuran dalam menjalankan sistem kerja, tapi tidaklah mudah serta  memerlukan biaya yang tinggi, jika harus melakukan sistem kontrol yang ketat dalam hal memonitor “kejujuran” para karyawannya. Dapat dibayangkan, jika manajemen tidak mempercayai integritas kerja seorang operator atau security yang bekerja shift malam atau driver yang bertugas mengirim produk ke tempat yang jauh, atau pekerja proyek yang bertugas di remote area, sehingga perlu memasang perangkat monitor 24 jam untuk memantau pekerjaannya, misalkan.

Integritas kerja juga sulit untuk diajarkan lewat pelatihan formal, karena hal ini berhubungan dengan behavior (perilaku) seseorang yang mungkin dapat berubah-ubah tergantung dari nilai-nilai yang dianutnya saat ini.  

Hal yang paling mudah untuk menularkan integritas kerja adalah dengan memberi contoh kepada yang lain. Dengan prinsip 3 S, yaitu dimulai dengan Sedikit dan dari diri Sendiri serta dimulai dari Sekarang. Mudah-mudahan kita akan terbiasa melakukannya.

Integritas kerja akan menumbuhkan saling percaya (Trust) dari pihak karyawan terhadap atasan serta sebaliknya dari pihak manajemen maupun pemegang saham, yang nota bene adalah owner perusahaan.

Trust atau kepercayaan inilah, yang akan menjamin kelangsungan kerja serta pengembangan perusahaan, yang tentunya akan berdampak simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan antara karyawan & manajemen dengan pemilik modal.

 

Integritas, mudah dibicarakan, sulit dilaksanakan, mudah diangankan, sulit dibuktikan.

Integritas, murah tak ada yang jual, mahal tak terbeli.

by RKYU


Posted at 6:27:45 pm by Adr
Comment (1)  

Monday, January 14, 2008
Sempurna…hanyalah milik Allah SWT.

Kau begitu sempurna

Dimataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan selalu memujamu

Di setiap langkahku

Ku kan selalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu..

 

Lagu melow, tapi tak cengeng…..begitulah komentar orang tentang hits-nya Andra and the backbone, yang diputar berulang-ulang di radio, TV, ring backtone, nada sambung, nada dering, tape di angkot, nyanyian di pos ronda, pengamen di bis kota, nyanyian di kamar mandi atau celotehan anak-anak balita.

Lagu yang menceritakan pujaan seorang laki-laki yang kasmaran berat tentang "kesempurnaan" sang kekasihnya untuk dicintai, yang sampai-sampai tak bisa hidup tanpa cintanya. Lyric yang super melankolis ini, ternyata tidak hanya digandrungi para laki-laki, yang merasa terwakili dalam mengukapkan perasaannya, juga para wanita yang memimpikan mendapat pujaan seperti itu. Lyric yang indah dengan intro dentingan gitar acoustic, membuat alunan merdu disetiap ketukan nada , terasa pas dengan runutan lyricnya. Walaupun, kalau kita membandingkan dengan lagu Homesick dari King of The Convenience, memang benar kata sahabat di blog sitenya, rasanya ada kesamaan pada nada pembukanya. (Coba aja klik ke judul lagu diatas)

Hopefully, it was coincident, kalo gak....sayang banget kesempurnaannya ternoda.

Besarnya perasan cinta memang dapat membuat buta akal dan pikiran, terkadang seperti gila. Ingat cerita Laila dan si Majnun, yang akhirnya merana dan mati dalam "ke-majnunan" cintanya, yang tidak pernah terbalas. Atau ingat cerita si semut yang mati kekenyangan di gudang gula, menemui ajalnya dalam menikmati "kesempurnaan" pelampiasan nafsu laparnya.

Teringat pula kebiasaan satu sahabat di SMA dulu, yang sering mengucapkan kata "Sempuuuurnaaaa…." sambil mengeluarkan asap rokok yang dihirupnya, sebagai ekspresi kesempurnaan nikmat merokok….padahal dia sedang meracuni paru-parunya dengan sejumlah zat karsinogen yang dapat memicu penyakit kanker. (Tak jelas memang, jangan-jangan mau bikin iklan rokok Sampurna kali ya??….)

Kesempurnaan hidup juga aku rasakan, ketika menyadari bahwa sekarang aku mendapatkan amanah seorang anak cantik (Ini sebutan anak perempuan, oleh Bu Nunuk di TK anak-ku). Anak cantik yang kunanti-nanti, selalu kubawa dalam do'a, kuharap dalam angan, selama 13 tahun hidup berumah tangga, akhirnya melengkapi hidupku dengan 2 kakak laki-laki-nya. (Di rumah aku sebut, Kakak Besar, karena badannya besar; Kakak kecil, karena memang kurus dan kecil, sedangkan si adik dipanggil Adik Bulat , karena mukanya yang bundar). Kadang kekenesan iklan obat batuk dengan anak kecil yang berkata : "Mah, suaraku serak seperti kodok….", membuat rinduku menjadi-jadi akan hadirnya si anak cantik. Alhamdulillah ya Allah.

Sempurna memang rasanya hidup ini, ketika angan, impian, cita-cita teraih sudah….

Sempurna rasanya ketika dapat melampiaskan dorongan hawa nafsu sepenuh jiwa.

Tetapi itulah manusia, yang cepat sekali lupa dari mana nikmat-nikmatnya itu. dia peroleh, tak menyadari bahwa ujian kesenangan hati tengah diberikan.

Rasa gembira dan cinta yang mengebu, seolah kesempurnaan hidup sudah teraih semua jika dapat melampiaskan rasa suka-cita tersebut. Padahal, hakikatnya, kita sedang digelincirkan oleh nikmat kesenangan dunia, kecintaan terhadap sesuatu yang fana, sehingga melupakan objective utama kita dalam hidup di dunia, yaitu beribadah untuk meraih ridlho Allah SWT agar kelak selamat di akhirat.

Mudah-mudahan perasaan cinta, perasaan nikmat yang kita peroleh, senantiasa disandarkan semata-mata karena karunia-Nya dan kita selalu terhindar dari perasaan cinta yang berlebihan, yang dapat merusak akidah kita, karena munculnya syirik di dalam hati, yang tidak kita sadari....

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT dan hanya datang dari-Nya.....

 

Cibitung, 5 Muharram 1429.

by rkyu


Posted at 11:20:35 am by Adr
Comment (1)  

Tuesday, December 04, 2007
Menanti si Buah Hati.

 

Di suatu hari 17 tahun yang lalu, aku hampir kehabisan akal untuk berbaikan dengan sang pacar. Tak ingat jelas, apa pasal kami bertengkar, tetapi hari itu sangat sulit untuk berkomunikasi. Datang ke rumahnya, gak mau menemui. Coba ditelpon, gak pernah diangkat, mau SMS …eeh belum jamannya kali.

Ide kampungan itu tiba-tiba muncul di tengah frustasinya untuk mencari jalan damai.

Kubeli sebuah kartu pos lengkap dengan prangko dalam kota. Aku tuliskan nama dan alamat  sang pacar. Lalu kutuliskan pesan dibalik kartu pos tersebut: "Ayoo Ibu..., jangan marahan aja sama Ayah ya....". Di alamat pengirim kutuliskan sebuah nama Lizdriana Putri, sebuah nama yang merupakan gabungan namaku dan nama sang pacar.....

Kenekatan & ide kampungan itu berhasil, beberapa hari setelah itu, walau do'i udah mau baikkan, tak ayal aku disemprotnya..."Apa-apaan sich....bikin malu aja ama seisi rumah" ujarnya sambil cemberut....(He he he...yang pentingkan komunikasi jalan lagi.....)

17 tahun berlalu sudah, setelah kami menikah dan mengarungi rumah tangga, melalui pasang surut kehidupan, riak gelombang perjalanan rumah tangga, dengan 2 anak laki-laki yang masih bersekolah di sekolah dasar, aku merasa masih "belum lengkap" keluarga ini tanpa kehadiran seorang putri, yang diharapkan bakal jadi penengah atau tumpuan kedua kakak-kakaknya ketika bersedih atau mendapat masalah....Ach, mungkin aku terlalu banyak berharap...

Jika sahabatku yang mempunyai dua orang putri bercerita, ketika pulang dari kantor, maka disambut manja oleh 3 bidadarinya....maka ketika aku pulang kantor, jika bukan permainan bola yang berlangsung ditengah rumah, arena smack down yang terjadi tempat tidur. Sudah pastilah, sang Ibu hanya bisa mengurut dada, menyaksikan anak-anaknya berteriak sambil mengaduk-aduk seisi rumah.

Ada cerita menarik, ketika kami pergi haji 2 tahun yang lalu. Seorang sahabat isteriku berpesan titip do'a kepada kami. "Apa doa-nya?" tanya isteriku. "Apa sajalah, pokoknya sama yang juga dimintakan" jawab sahabat isteri. Sahabat ini sudah mempunyai putra dan putri, sehingga terkadang kami iri kalau melihat "keluarga yang lengkap" itu.

Harapan akan hadirnya ditengah-tengah kami seorang putri yang kelak akan mendatangkan kegembiraan di keluarga kami, selalu kami bawa dalam do'a-do'a kami. Hari-hari di tanah suci, ditempat-tempat yang makbul untuk berdo'a, diwaktu-waktu yang diijabah segala do'a, tak pernah kami lewatkan untuk meminta dititipi seorang anak perempuan yang cantik dan sholeha.

Sepulang dari tanah suci, ternyata sang sahabat isteri telah mengandung dan lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik, ILA panggilannya. Kalau kami bertemu mereka, terkadang kami berseloroh, ILA ini adalah jawaban do'a kami, yang dicopy paste oleh sahabat kami. Melihat ILA yang cantik, membuat kami semakin mendambakan datangnya sang putri. Penantian sang putri, berujung kepada konsultasi dengan seorang dokter pakar "gender selection" dibilangan Kebayoran Baru. Dalam penjelasannya, dengan teknologi kedokteran yang canggih, kami dapat merencanakan, jenis kelamin anak kami kelak. Ada kebimbangan, apakah cara yang kami tempuh ini diridloi atau tidak oleh Allah SWT.

Setelah pemeriksaan dilakukan kepada sang isteri, ternyata ada permasalahan hormon, sehingga indung telur tidak dapat dibuahi. Sang pakar yang merupakan professor dokter, yang sudah menjadi dokter ketika aku lahir, (itu adalah jawaban dia, ketika aku bertanya berapa usianya...), memberikan obat dan berpesan, setelah menstruasi hari pertama, disuruh datang kembali, dengan keputusan apakah mau melaksanakan program "gender selection" tersebut dan kami harus memilih apakah lewat bayi tabung atau inseminasi. Sebenarnya ada banyak teknik untuk berupaya memilih gender. Ada yang namanya Shettles Methode, dengan mempertimbangkan sperma pembawa gen perempuan lebih lama bertahan hidup daripada sperma gen laki, maka kalau ingin laki-laki, intercouse dilakukan paling lambat 12 jam sebelum ovulasi, dan jika ingin perempuan beberapa hari sebelum ovulasi. Teknik yang cukup sederhana, tetapi harus mengetahui kapan ovulasi terjadi, untuk itu harus dilakukan pengukuran suhu tubuh secara rutin. Metode lainnya adalah In vitro fertilization atau bayi tabung. Pembuahan dilakukan didalam cawan petri (kenapa gak disebut bayi cawan ya..?), kemudian embrio ditanamkan ke dalam rahim. Shettles methode mempunyai tingkat keberhasilan lebih rendah tetapi lebih murah tentunya dibanding in vitro fertilization. Metode lain yang cukup menjanjikan dan lebih murah ongkosnya adalah Intraurine Insemination (IUI). Dimulai dengan teknik pemisahan sprema laki dan perempuan lewat Erricson Albumin Methode, sperma yang sudah dipilih akan disuntikan ke dalam rahim sehingga diharapkan terjadi pembuahan.   Kami sangat ragu untuk membuat keputusan, apakah ini merupakan jalan yang tepat, secara kami tidak mempunyai masalah kesuburan yang serius. Kami hanya ingin anak perempuan.....itu saja koq!.

Hari-haripun berlalu, dan mestruasi yang ditunggu-tunggupun, tak kunjung datang.

Kami mulai curiga, jangan-jangan.......????. Ternyata dugaan itu benar, sang isteri sudah positif hamil, setelah diperiksa test pack pada minggu berikutnya.

Kamipun pasrah, ini memang kehendak Allah SWT, bahwa kami dikaruniai anak ketiga tanpa sempat berkonsultasi lebih lanjut tentang gender selection.

Kami sepakat untuk tidak bertanya lagi tentang jenis kelamin, juga kepada dokter kandungan ketika kami memeriksakan kondisi kandungan, tetapi hati ini selalu H2C (Harap-Harap Cemas). Genap 40 minggu dilalui, hari sabtu, minggu yang lalu, kami pergi ke rumah sakit lengkap membawa kopor, setelah meminta restu dari orang tua. Dengan yakin sekali, kamipun memasuki rumah sakit dan langsung ke ruang bersalin di lantai 2. Setelah diputuskan untuk diinduksi dengan tablet, beberapa saat isteriku mulai merasakan mules yang luar biasa, tetapi setelah beberapa lama rasa mules sang isteri pun akhirnya hilang, dan "pembukaan" masih 1-2. Proses induksi dilakukan yang kedua, hasilnya sama. Dokter menyarankan untuk meneruskan proses induksi yang ketiga...Satu kali proses induksi saja memakan waktu 6 jam dam selama itu mules-mules berlangsung kurang lebih 5 menit sekali. Aku gak tega melihat isteriku mules-mules lagi. Konsultasi (lebih tepatnya negosiasi) berakhir dengan keputusan membawa kembali isteriku pulang ke rumah. Setelah menyelesaikan biaya administrasi dan tanda tangan pernyataan bertanggung jawab atas keputusan tersebut, maka pulanglah kami ke rumah. Kamipun disarankan menunggu lagi satu minggu ke depan dan dipesankan untuk lebih banyak dibawa jalan, padahal hampir tiap malam aku harus mengolesi counterpain ke betis isteriku yang mulai terlihat bengkak. Rasa khawatir mulai menyelimuti kami, apakah si bayi masih bisa selamat bertahan dalam kandungan. Dua hari sekali kami pergi ke dokter kandungan, memeriksakan kondisi jantung si bayi dan kesehatan ibunya.

Sabtu, 1 Desember 2007 pukul 07.30, akhirnya penantian kamipun berakhir....lewat operasi cesar, sang putri lahir ke dunia, memecah heningnya keluarga kami dengan lengking tangisan soprano-nya.......Alhamdulillahi rabbil alamin,....Allah SWT sangat sayang kepada kami....tak terpikir bagaimana kami membalasnya..

Subhanallah..Allahu Akbar....

 

By rKyu

 

 


Posted at 2:56:01 pm by Adr
Comment (1)  

Thursday, November 15, 2007
Wine blind-tester challenge

"A sweetheart is a bottle of wine, a wife is a wine bottle."
— Charles Baudelaire

 Lebaran hari ke-2, seharusnya masih dalam suasana liburan keluarga. Apa boleh buat, atas nama tugas, sang buruh kapitalis (lagi-lagi) mengorbankan waktunya untuk meninggalkan anak & isteri tercinta, untuk memenuhi undangan meeting di Paris.

Seorang teman menggodaku, bahwa kali ini mudik termahal yang aku jalani. Entah maksudnya mahal ongkosnya, atau mahalnya pengorbanan keluarga, merelakan aku meninggalkan di hari yang penuh kegembiraan.

 

Alkisah, di sela-sela meeting pada hari kedua, seluruh participant diundang untuk group dinner di sebuah restoran di bilangan Rue des Eaux, dekat Tour de Eiffel.

Ternyata, tempat yang dikunjungi adalah museum anggur (musee du vin Paris), yang menyerupai lorong gua bawah tanah, lengkap dengan sejarah pembuatan wine dan alat-alat pembuatannya dari jama baheula. Sebenarnya aku ragu untuk meneruskan acara dinner ini, tapi apa boleh buat, terlanjur ikut dan lapar pula. Kutekadkan untuk tidak mencicipi wine-wine tersebut. Untungnya, kawanku Mohammed Farag dari Egypt, juga tidak minum khamr ala Perancis ini.

Tetapi yang menarik adalah, bagaimana French people ini, menganggap bahwa minum wine bukan sekedar menegaknya sampai mabuk atau klyengan, tapi merupakan salah satu "table manner" dalam bersosialisasi. Pengetahuan yang dalam tentang rasa, aroma dan warna atau penampilan wine, menjadi prestige tersendiri.

"Red wine is serving while you eat meat, and white wine is for fish menu" ujar Mathieu, temanku yang duduk disebelah meja. "How about champagne?" isengku bertanya pada dia. "Ooh, it's fit for any kind of food, but it's not table wine".jawabnya. "Ooh, really…." Ucapku, padahal sumprit kagak ngarti bedanya table wine dengan wine-wine lainnya.

 

Tibalah saatnya untuk blind tester challenge, setiap orang diberikan 3 gelas wine yang berbeda dengan sebuah kuesioner untuk menerka wine dari region mana, jenis anggur apa dan pembuatan tahun berapa. "It's a heavy task" ujar Farag sambil mendelik ke arahku.

Tanpa berpikir panjang, kuisi kuesioner dengan cepat dan kujauhkan gelas-gelas wine seolah sudah selesai. Farag tersenyum kearahku, sambil berujar: "How can you answer the questioner, you're not even taste it"

"I can guess from the level of glycerin in the bottom of the glass. And also from the color of the wine" ujarku tetep ngeles, walaupun gak dicicipi tapi yang penting jawab. "ooh impressive, can you see the glycerin ?" …."Of-course, not my friend, he he he" kataku setengah berbisik.

Akhirnya Farag pun mengisi kuesioner juga tanpa memandang wine-wine tersebut.

Tamu-tamu yang lain sibuk mengulang-ulang mencicipi wine sambil menerka-nerka jenis apa wine tersebut. "It's Bordeaux….C'est pas possible Burgundy" ujar Mathieu memandang heran melihat jawabanku. "It's OK, I can change the answer…C'est pas problem" jawabku enteng.

 

"Mohammed, I think we can start taking our dinner as we finished our challenge" ajakku, mengambil makanan di meja lain. Tetapi ternyata, makanan itu akan disajikan di meja, dan akupun tetap harus menunggu acara itu berakhir.

 

Sebelum acara dinner itu berakhir, aku sempat berujar kepada Mohammed, "Actually, as a Moslem, we're not allowed to sit one table with the people drinking khamr, it's a hadits. Do you agree?" . Farag pun menjawab "I already ask for Allah merci, so Istifar…." ujarnya sambil tersenyum.

Ya Allah, lagi-lagi aku tak berdaya mengikuti arus gelombang "Hubbud-dunya" di samudra kapitalis tak bertepi....Astagfirullahal adziim…

 

Paris, 16 October 2007.

 

By rKyu


Posted at 3:54:42 pm by Adr
Comments (2)  

Tuesday, November 13, 2007
Tak semua India itu buruk

Siang itu, kami berdua (saya & Adi) seperti biasanya pergi ke Mesjid Nabawi untuk menunaikan shalat Zhuhur. Kami sengaja mempercepat jadwal makan siang dengan berburu Sop Kikil di rumah makan Indonesia, karena ada jadwal "piket" di kamar hotel, sehingga baru boleh pulang selepas maghrib.

Setelah selesai shalat, seorang jamaah berperawakan sedang, hidung macung, dengan kumis dan jambang tipis, memakai baju gamis putih kekuning-kuningan (broken white), datang mendekati kami. Sepertinya berasal dari India atau Pakistan, (kami tak pandai membedakan saudara dari India atau Pakistan).

"Assalamu 'alaikum, brother....how are you?". Ucapan salam dijawab dengan lengkap oleh temanku, Adi , dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Sorry to disturb your time. As we are brother, I need your help. I don't have any money for eat. My country, recently, has been struck by earthquake…..and so…and so". Sangat pelan, sopan dan lancar  dalam membawakan cerita tantang dirinya yang sedang dalam kesulitan. Dalam kondisi normal, sebagai tamu Allah, yang sedang melaksanakan ibadah Haji, sudah barang tentu kami akan tersentuh dan dapat dipastikan, akan memberikan sedekah untuk meringankan bebannya. Tetapi, tidak demikian kala itu, buat temanku yang kritis terhadap cerita tadi. Ia berusaha mengajak ngobrol lebih jauh tentang daerah asal jamaah yang dilanda gempa, dimana keluarganya sekarang berada, bagaimana rencana jamaah ini selanjutnya. Adi, temanku, berusaha untuk mengajak jamaah ini, untuk menemui Imam Mesjid atau perwakilan kedutaan jamaah itu berasal, atau kantor perwakilan urusan haji Saudi, untuk meminta bantuan atau jalan keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi. Kontan, jamaah ini menolak, dan bilang: "It's OK, if you cannot give money, wa alaikum salam" ujarnya sambil berlalu.

Kami memang agak curiga dengan penampilan dan gaya bicaranya yang seolah-olah fasih terstruktur keluar dari mulut seorang yang sedang dalam musibah.

"Sudahlah, biar aja…" ujarku mengajak sang teman, yang masih penasaran memperhatikan gerak gerik jamaah tadi. Sang Jamaah tadi, terlihat seperti mencari jamaah lain untuk bercerita lagi. Temanku ini mengajak aku untuk mendekati dan mendengarkan apalagi yang akan diceritakannya. Aku berusaha menenangkan dia, sambil berujar : "Sudahlah, mungkin itu hanya ujian bagi kita, agar kita tetap bisa menolak secara baik. Ingat lho, berbantah-bantahan  itu juga bisa merusak ibadah haji kita ".

Akhirnya, kamipun pergi menjauh, mencari tempat untuk duduk-duduk sambil tilawah Al-Qur'an. Sahabatku ini sempat berujar : "Dasar India, dimana-mana selalu saja mau menipu". Kami sempat tiduran didalam mesjid, sebelum akhirnya memutuskan keluar untu sekedar berjalan-jalan menunggu saatnya waktu ashar . Tiba-tiba temanku menyadari bahwa handphone Samsung-nya hilang, mungki  terjatuh dari saku celananya.

Aku pun mengeluarkan handphoneku dan berusaha menelepon nomor temanku.

Awalnya tidak ada jawaban, sepertinya handphone tidak aktif. Setelah beberapa kali mencoba, tiba-tiba ada yang menjawab dari nomor tersebut. "Hallo, assalamu alaikum, who is this?" tanyaku. "Aaaah, I'm Mr. Bashiir, where are you?". Akhirnya, kami sepakat janjian untuk bertemu di TAIBA center. Setelah beberapa saat, kamipun bertemu. Sahabatku langsung memeluk Bashiir dengan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami tahu bahwa dia adalah seorang pengusaha asal India yang bermukim di Pakistan. Penampilannya cukup keren, terpelajar dan sangat santun, dia datang bersama dua temannya (terlihat seperti pegawainya, karena mereka membawakan barang belanjaannya Bashiir), dan kamipun bertukar cerita dan alamat. Kami sempat berfoto bareng bertiga dengan background mesjid Nabawi.

Ketika kami pulang, tak henti-hentinya sahabatku beristigfar, ternyata Su'udzon kami tentang etnis India, dijawab kontan oleh Allah SWT, dengan mempertemukan kami kepada saudara kami yang mempunyai keluhuran budi, kejujuran hati serta ketinggian intelektual, yang sangat jauh dari "cercaan" yang sudah dilontarkan.

Hari ini, sebuah pelajaran telah didapat lewat teguran yang sangat halus, bahwa kesombongan hati tidak seharusnya terbawa kesini…..

 

(Dallah hotel- Madinah,   Dzulhijjah 1426 H)

 

By rKyu      

 


Posted at 5:26:31 pm by Adr
Komentarin donk !!!  

Monday, October 29, 2007
m0Bil imF1aN

Kupernah punya .. mobil balap sendiri ..
Yang bisa ngebut .. dijalanan tiap hari ..
Ku tidak pernah merasakan kesepian ..
Tak ada gadis yang menolak diantarkan ..

 

Ocehan David Naif yang kudengar di frequency I-Radio, siang itu mengusik darah sembalap-ku memacu mobil di jalanan. Kumerasa berada di lintasan Suzuka, Silverstone atau Magny-Cours ….. Khayalan 'tuk jadi Ayrton Senna, Schumacher, Kimmi atau Hamilton, menggeber jet darat, memacu adrenalin sampai ke ubun-ubun, tak pernah hilang, sejak pertama kali diajak Bapak menonton balap go-kart di jalanan Ganesha tahun 1970-an.

Nasib memang tak pernah membawaku ke lintasan sirkuit, apalagi bersentuhan dengan dunia auto-mobil. Nyali-ku memang cuman secuil kalo untuk urusan kebut-kebutan. Paling-paling cuma berani nonton F1diam-diam malam-malam, dengan resiko terberat dapat omelan dari isteri tercinta.

Untuk sekedar melamunkan mobil impianpun tak pernah cukup punya nyali. Saking jiper-nya, khayalan itu datang, beragam majalah automotif-pun anti dilirik. Padahal gelar sarjana yang diraih di bidang MESIN.  Hwarakadah!!, teori motor bakar, getaran mekanik, kekuatan elemen mesin, suspensi, emisi gas buang, mekanika fluida, drag dilalap habis selama 9 semester. Tune-up engine motor bebek, motor 2 tak, Kijang, land rover sampai mesin Caterpillar untuk dump truck  pernah dilakoni. Gear box jeep willys, mesin kijang 4 K, submersible pump, cryogenic pump dan gas turbine generator pun pernah kubongkar, tapi pastinya akan gagal jika kupasang kembali.

Tetap saja, jiwa permesinan itu tak pernah merasuk kedalam dan terlarut di sukma.

I'm dreaming machinery, I'm living mechanically, I'm working a rotating machine, truck, crane etc, but still more interest on human being…huek-huek.

 

Just to satisfied, my childish ego to have a dream car, I took a photo of truly dreaming vehicle Mercedes Benz SLR McLaren Roadster …..That is my dreaming car....at least for now.

 

                                                                    (Photo by Sony DSW-80, Friday 19 October 2007, 10.47 local time)

 

 

By rKyU

 

(Oleh-oleh dari jalan-jalan sewaktu lebaran, biar ada ide buat nulis lagee :

5U554H C4R1 1NN55P1R4551….)

 

 


Posted at 3:26:25 pm by Adr
Comment (1)  

Next Page